14 Januari 2012

Guru Goblok Ketemu Murid Goblok

Buku ini disarankan kepada kawan-kawan mahasiswa mata kuliah Inovasi dan Kewirausahaan kelas EL-32-GAB. Jarang sekali dosen yang merekomendasikan buku untuk dibaca kepada mahasiswanya. Kelas yang diajar Mas Cocon (Candra Wijayangka/CWJ) ini memang terbilang cukup seru, mungkin karena usia dosen yang tidak terlalu jauh sehingga dekat dengan mahasiswa karena bisa beradaptasi dengan tren kekinian.

Buku karya seorang konsultan keuangan ini disarankan ketika dosen sedang membahas tentang perhitungan perkembangan aset. Seingat saya, beliau mencontohkan dengan modal sekitar 100 juta rupiah, maka dapat dihitung waktu perusahaan tersebut untuk menjadi perusahaan berkelas nasional. Sebagai perbandingan, ia memberikan tiga contoh perusahaan dengan perkembangan aset tetap per tahun sebesar 20%, 50%, dan 70% (CMIIW).

Pembahasan tentang perhitungan tersebut ternyata sama persis dengan apa yang tertulis di pertengahan buku ini. Setiap kata yang ia lontarkan juga nyaris sama dengan kata yang ada di buku itu. Saya sempat heran ketika membaca bagian itu, bagaimana caranya ia menghafal isi buku itu (kira-kira 3-5 halaman).

Secara khusus, buku ini ingin memotivasi pembaca untuk menjadi wirausahawan. Namun, nilai-nilai umum yang terkandung dalam buku tersebut sebenarnya dapat digunakan juga untuk kehidupan. Beberapa diantaranya adalah merasa goblok, tekun, dan timing.

Merasa Goblok

Bagi generasi seperti saya, mungkin tidak asing lagi dengan istilah menyontek. Mulai dari SD hingga kuliah, selalu saya dapati ada teman yang suka menyontek. Mungkin, di dunia profesi nanti pun juga masih ada yang suka menyontek? Ah, kita lihat saja nanti.

Penulis, Iman Supriyono, menyebutkan bahwa perbuatan menyontek sesungguhnya hanya didasari oleh perasaan tidak ingin dianggap goblok. Ya, sejak kecil orang Indonesia memang selalu ingin dianggap pintar. Konsep ranking di bangku sekolah tak pelak membuat banyak siswa berlomba-lomba ingin masuk podium (3 besar). Bahkan, segala cara dilakukan untuk mencapainya.

Pandangan ingin selalu dianggap pintar ini kemudian berlanjut hingga ke masa tua. Ini saya dapati pada guru-guru yang selalu merasa dirinya benar, tidak ingin disalahkan, ngeyel, gak bisa dibilangin, dsb. Pemikiran kolot seperti itu yang ingin dihilangkan oleh guru dari penulis ini, alias Guru Goblok.

Pengusaha kaya yang bermodal banyak ini sering dipanggil Pak Rohim atau Pak Guru. Guru Goblok mereka para wirausahawan muda menyebutnya. Mengapa? Karena guru yang sering memberi modal usaha kepada para mahasiswa ini selalu merasa dirinya goblok. Contoh, jika bisnis yang dijalankan oleh mahasiswa binaannya (dan tentunya dimodali oleh guru juga) gagal, maka ia tidak menyalahkan mahasiswa itu. Tetapi, ia menganggap dirinya yang goblok. Karena jika dirinya pintar, maka ia tidak seharusnya memberi modal usaha kepada mahasiswa itu, atau setidaknya bisa mengajari mahasiswa itu berbisnis lebih baik sehingga tidak rugi/gagal.

Teruslah merasa goblok dengan catatan dibarengi dengan usaha untuk menghapus kegoblokan tersebut. Jika sudah terpecahkan kegoblokan yang satu, maka cari kegoblokan yang lain. Inilah istilah yang disebut penulis sebagai bahasa lain dari fa’idza faragta fanshab, jika setelah selesai dengan urusan yang satu, maka kerjakan urusan yang lain. Dengan demikian, hidup menjadi bermakna karena kita terus menerus belajar sampai akhir hayat. Misalnya, apa Anda tahu arti dari phi (3,14159…) yang dipakai dalam rumus lingkaran? Atau dari mana asal muasal rumus volume bola {(4/3) x phi x r^3}? Jika belum tahu, maka dua pertanyaan tadi merupakan kegoblokan Anda bukan? :-D

Itulah juga yang bisa kita terapkan dalam kehidupan. Apa salahnya kelihatan goblok dengan sekali dua kali mengorbankan rasa malu, dari pada harus berbohong menyontek pekerjaan teman yang itupun belum tentu benar. :-D

Tekun

Satu hal lagi yang dibahas di buku ini adalah ketekunan. Seorang yang sukses tidak mencapai kesuksesannya dengan instan. Banyak yang dicontohkan oleh penulis dalam bukunya. Namun, karena saya lupa, maka saya ambil contoh lain saja. Manchester United (MU), tim sepakbola liga inggris yang selalu finish di tiga besar liga inggris dalam dua dekade ini ditukangi oleh Sir Alex Ferguson (Fergie). Apakah ia melatih MU begitu saja lantas langsung meraih prestasi seperti yang saya sebutkan di atas? Tentu tidak, ia harus tertatih-tatih selama 6 tahun sebelum mencapai prestasi yang konsisten.

Timing

Dalam buku tersebut ada analogi lain. Suatu hasil akan optimal ketika terjadi pada waktu yang tepat. Seorang wirausahawan yang berpengalaman tahu bagaimana menemukan timing tersebut. Analoginya begini, sepasang suami istri baru saja selesai melangsungkan akad nikah. Sebelum para tamu beranjak dari tempat akad, sang suami langsung berdiri dan berkata, “Bapak-bapak dan ibu-ibu serta semua undangan yang saya hormati, terima kasih telah hadir pada acara yang sangat berbahagia ini. Sekarang, karena saya dan istri sudah menjadi pasangan yang sah, kami mohon diri untuk melaksanakan hak dan kewajiban kami sebagai suami istri.” Bagaimana reaksi para tamu? Mungkin mencibir dan menertawakan. Apakah perbuatan sang suami salah? Jelas tidak, itu sudah menjadi haknya, namun timing-nya tidak tepat.

Barangkali cukup tiga pelajaran yang saya tulis disini, selanjutnya silakan baca sendiri buku terbitan SNF Consulting itu. Jangan mau disuapi terus dengan membaca intisarinya saja dari blog saya, tekunlah mencari sendiri pelajaran yang ada di buku itu. :-)

Cimahi, 14 Januari 2012
Rama Permana

Kaitkata: , , , ,
16 Desember 2011

Depapepe – Ii hi dattane (Chord)

http://www.youtube.com/watch?v=neuKDWzZylA

Transpose = +2

Chord:

A

A

A

A

INTRO

A

A

A

A

A

C#m

A

C#m

C#m-Cm

VERSE

Bm

E

C#m

F#m

Bm

E

A

C#m

A

C#m

C#m-Cm

Bm

E

C#m

F#m

Bm

E

A

D

E

C#m

F#m

Bm

E

A

A7

CHORUS

D

E

C#m

F#

Bm

E

A

A

C#m

F#m

C#m

INTERLUDE

Bm

E

C#m

F#m

Bm

E

A

D

E

C#m

F#m

Bm

E

A

A7

CHORUS

D

E

C#m

F#

Bm

E

A

A

ENDING

15 Desember 2011

Think for Stand Up Comedy?

Raditya Dika. Sumber: vivanews

Senin (12/12) pagi sambil bersiap menuju kampus, saya cek semua akun untuk terakhir kalinya. Ini biasa saya lakukan karena di kamar kost sengaja tidak ikut pasang internet. Sambil terus scrolling touch-pad laptop ke bawah halaman home Fesbuk, dan jappp! Saya lihat tautan dari Yutub berjudul Boris Bokis StandUp Comedy bla bla bla. Ternyata, itu adalah salah satu acara di Dies Natalis Informatika 2011.

Entah kenapa saya ingin membuka link tersebut, setelah buffer cukup lama, akhirnya saya pun bisa menyaksikannya. Orang itu mengaku bernama Boris Thompson Manullang. Lumayan lucu karena lawakannya yang bertema Ciri-Ciri Orang Batak itu meledak-ledak, plus intonasi yang menggelikan mungkin bisa menambah kita tertawa terbahak-bahak.

Tak lama, saya menceritakan video tersebut kesana kemari. Seorang kawan saya menanggapi, “Raditya Dika lebih ngakak…” Benarkah? Ya, saat melihat Stand Up Comedy Raditya Dika, beberapa kali saya tertawa keras. Berbeda dengan Boris yang kekuatan lawaknya ada di intonasi suara, Raditya Dika justru memiliki kekuatan pada ekspresinya. Cerita maupun ekspresinya boleh disebut lebay, meski isi lawakan itu ada benarnya. Coba saja dengarkan, perfilman Indonesia, sistem berpacaran Indonesia, nyentrik.

Nah, tahukah Anda kalau sekali seorang komedian tampil –durasi 10 menit– bisa menghasilkan belasan juta rupiah? Menarik memang, sedikit menurunkan rasa malu dan cerita lucu, mungkin Anda bisa mencobanya. Banyak orang sudah mencoba, namun hasilnya memang tidak se-ngakak mereka-mereka yang sudah saya sebutkan di atas. Mau contoh? Lihat saja di KompasTV. :-)

Cimahi, 15 Desember 2011
Sambil menunggu pertandingan Al-Sadd vs Barcelona

13 November 2011

Depapepe – Wedding Bell (Chord)

Ini videonya:

http://www.youtube.com/watch?v=sf2_si7MF2o

Ini chord-nya:

E

A-G#m

F#m

B

G#m

C#m

A

B

INTRO

E

G#m

C#m

G#m

VERSE

F#m

B

G#m

C#m

A

B

E

G#m

C#m

G#m

F#m

B

G#m

C#m

A

B

E

E7

A

E

A

E

INTERLUDE

A

B

G#m

C#m

A

B

E

G#m

F#m

B

G#m

C#m

CHORUS

A

B

G#m

C#m

A

B

E

E

G#m

C#m

G#m

VERSE

F#m

B

G#m

C#m

A

B

E

E7

A

E

A

E

INTERLUDE

A

B

G#m

C#m

A

B

E

G#m

F#m

B

G#m

C#m

CHORUS

A

B

G#m

C#m

A

B

E

G#m

F#m

B

G#m

C#m

A

B

G#m

C#m

A

B

E

A

B

E

A-G#m

F#m

B

ENDING

G#m

C#m

A

B

E

Kaitkata: , , ,
31 Oktober 2011

Uniknya Film Vantage Point

Film ini mengisahkan tentang deklarasi perdamaian dari Amerika Serikat. Presiden AS, yang rencananya akan berpidato tentang perdamaian tersebut di Spanyol, ditembak dari jarak jauh sesaat sebelum memulai pidatonya. US Secret Service pun pontang panting dengan ledakan bom yang terjadi tak lama setelah penembakan itu.

Vantage Point, yang dirilis pada tahun 2008, dikemas dalam cara yang tidak seperti umumnya. Lebih dari setengah jam pertama, film ini hanya berputar-putar pada rentang waktu kejadian yang sama. Bedanya, ada setidaknya lima sudut pandang untuk masing-masing playback tersebut, mulai dari perspektif stasiun TV GNN, agen Barnes, polisi Spanyol, wisatawan, dan Presiden AS sendiri.

Pengemasan yang unik inilah yang menjadikan film ini menarik dan tidak membosankan, meski jika dihitung-hitung, ceritanya lumayan pendek untuk sebuah film box office.

Cimahi, Oktober 2011

2 Oktober 2011

20th Milestone: Dua Pertiga Bagian Lagi

Cover DREAMS

Sekitar satu pekan lalu saya membaca buku tutorial berjudul DREAMS karya Bang Jiung (Hendry) dan Bang Asevy, trainer Elemen-T yang dulu sering berkomunikasi dengan saya. Setelah lebih dari tiga tahun tidak bertemu, ternyata mereka sudah membuat buku ketiga, buku yang khusus membahas tentang mimpi.

Diawali dengan kata-kata mutiara dari banyak tokoh sukses, hingga contoh daftar mimpi dari John Goddard. Daftar Goddard sangat menginspirasi karena ditulis ketika ia baru berusia 15 tahun. Tidak tanggung-tanggung, mimpi-mimpi yang ia tulis terbilang sangat tinggi, mulai dari mendaki gunung-gunung di dunia, menerbangkan pesawat, hingga pergi ke bulan. Tak kurang 100 dari 127 mimpi yang ia tulis telah berhasil dicapai.

Dilanjutkan dengan pembagian mimpi seperti meduca, mica, myfam, travelo, dan soca, saya mulai merenungkan 20 tahun hidup ini. Khusus pada bagian travelo, saya coba flash back tempat mana saja yang sudah pernah saya kunjungi. Saya teringat Adrian, seorang yang pernah dihadirkan dalam Kick Andy untuk bercerita tentang pengalamannya berkeliling Indonesia.

Setelah beberapa jam menuliskan daftar tempat yang pernah saya kunjungi, akhirnya didapatlah daftar provinsi yang pernah saya kunjungi dalam hidup ini. Provinsi-provinsi itu adalah:

  1. Jawa Barat, jelas ini provinsi kelahiran saya :-D
  2. Sulawesi Selatan, ada cerita unik di pantai losari, mungkin suatu saat saya tulis ceritanya
  3. Banten, masa awal sekolah dasar
  4. Jawa Timur
  5. Sulawesi Tenggara
  6. Maluku
  7. Papua Barat, empat yang disebutkan terakhir adalah satu rangkaian perjalanan
  8. Bali, setahun sebelum bom Bali pertama
  9. Jawa Tengah, ke sebuah tempat yang menjadi keajaiban dunia
  10. DI Jogjakarta, saat mengikuti salah satu turnamen tingkat nasional
  11. DKI Jakarta, masa SMA

Sebelas dari 33 provinsi yang ada di Indonesia, suatu hal yang mungkin jarang didapat oleh orang Indonesia sendiri. Saya bersyukur sudah diberikan pengalaman sedemikian besar untuk menjelajah hingga ke bagian paling timur Indonesia.

Sadar betapa sulitnya mengelilingi negeri ini, saya justru menambah daftar tempat yang ingin dikunjungi. Saat ini saya sedang menyusun 100 daftar tempat yang ingin dikunjungi. Tak hanya itu, keseratus tempat itu juga harus mencakup seluruh provinsi. Artinya, masih ada 22 provinsi atau dua pertiga bagian lagi yang harus dijelajahi.

Anda punya usul atau ingin berbagi cerita keliling Indonesia? Silakan berkomentar. :-D

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.