Penegakan Agama Perspektif Sirah

Edisi Makalah (Untuk Seleksi TPD Tahap 2)

Oleh: Rama Permana*


…أليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتى ورضيت لكم ألإسلم دينا…

“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (Q.S. Al-Maidah: 3)

Pendahuluan

Keterpurukan umat Islam saat ini disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah sebagaimana yang terjadi di Indonesia, mengagung-agungkan simbol dan mempertanyakan nilai. Selain itu, pengabaian terhadap sirah atau kajian sirah menyebabkan mayoritas kaum muslimin tidak dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita.

Pasca runtuhnya Mulkiyah Utsmaniyah, gonjang-ganjing tentang penegakan agama dalam tubuh umat Islam memang tidak pernah surut. Selain merupakan kewajiban-untuk menjadikan Islam sebagai ustadziyatu al-alam, tampaknya superioritas Barat dan Yahudi pada abad XX dan awal abad XXI sudah membuat kita sangat jengah. “Pada titik waktu sejarah kita sekarang ini, kita berada pada posisi yang memaksa kita menampilkan Islam sebagai suatu peradaban total.” (Sardar, 2000: 5)

Usaha merekonstruksi khilafah pun bukan tidak ada, berbagai cara telah dilakukan untuk mengembalikan kesatuan umat Islam. Salah satu produknya yang terlihat sekarang misalnya adalah OIC (Organizations of Islamic Conference) atau sering disebut OKI (Organisasi Konferensi Islam) dalam Bahasa Indonesia. Namun, produk-produk ini juga tidak kemudian mewujudkan hasil yang optimal.

“Sudah lama berkembang kuat opini di kalangan masyarakat Muslim, bahwa OIC tidak dapat berbuat banyak untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi umat Islam.” (Husaini, 2009: 149)

Sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk kembali menilik ke belakang. Mempelajari, mengambil hikmah, dan tidak mengulang kesalahan perjuangan umat Islam terdahulu. Kesadaran inilah yang tidak banyak muncul pada periode yang banyak disebut sebagai periode Mulkan Jabbariyah ini. Sementara itu, sejarah yang terbaik dan terlengkap yang dapat kita ambil manfaatnya adalah sejarah pada zaman Rasulullah saw masih hidup. Untuk itu, kami akan paparkan bagaimana Rasulullah saw beserta keluarga, sahabat, dan pengikut-pengikutnya menegakkan agama ini di masanya.

Analisis Fase Makiyah

2.1 Hikmah Dipilihnya Semenanjung Arab

Siapa yang mengira titik awal cahaya yang menerangi manusia berasal dari padang pasir yang membentang? Begitulah banyak penulis kawakan mengawali kalimat-kalimatnya tentang kajian sirah. Memang benar adanya, bahwa cahaya itu mulai bersinar dari tengah-tengah bumi. Disana terdapat hikmah Ilahi yang menurut Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buti dapat diringkas sebagai berikut:

  1. “Seperti yang diketahui dimana Allah Subhanahu Wata’ala telah menjadikan Baitul Haram itu tumpuan dan kesejahteraan untuk umat manusia seluruhnya dan merupakan rumah yang pertama untuk manusia beribadat serta mempraktikkan rukun-rukun agama. Sesungguhnya lembah Makkah ini telah menjalan dan melaksanakan seruan bapa para Anbiya’ iaitu Sayyidina Ibrahim ‘Alaihi sallam. Tepat dan kena pada tempatnya dimana kawasan yang mulia ini menjadi muara seruan agama Islam yang pertama iaitu agama Nabi Ibrahim dan juga tempat pengutusan Nabi yang terakhir “khattaman nabiyyin”. Kenapa tidak? Bukankah Nabi Muhammad ini dari keturunan Nabi Ibrahim ‘Alaihi sallam
  2. Di segi kedudukan ilmu alam maka semenanjung ‘Arab ini telah dipilih untuk bebanan tanggungjawab da’wah Islamiyyah, kerana situasi dan kedudukannya di tengah-tengah berbagai bangsa. Ini menyebabkan penyebaran da’wah Islamiyyah di kalangan bangsa-bangsa dan negara yang di sekelilingnya tersebar dengan mudah. Ini ternyata sekali bila kita mengkaji semula perjalanan da’wah Islamiyyah di zaman permulaannya dan di zaman khulafa al-Rasyidin. Memang tepat seperti yang ditegaskan tadi
  3. Dan sebagai hikmat Ilahi juga yang menjadikan bahasa ‘Arab itu sebagai media da’wah Islamiyyah dan bahasa yang pertama buat menerang dan mentafsirkan percakapan atau kalamullah ‘Azza wa jalla untuk disampaikan kepada kita.” (Al-Buti, 1983: 13-14)

Gambar 2.1.1 Lokasi Berbagai Agama Pra-Islam di Arab. Sumber: Encyclopedia of Islam and the Muslim World. Richard C. Martin. Macmillan Reference. 2003. Pg. 52.

Itulah tiga hikmah yang dapat kita ambil mengapa Islam diturunkan oleh Allah swt di semenanjung Arab. Setelah itu, kita berlanjut kepada bagaimana dakwah Rasulullah saw di Mekah. Kita hendak mengambil pelajaran dari apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw semasa berdakwah di Mekah. Selain itu, dakwah fase makiyah ini memiliki ciri sendiri yang membedakannya dengan tahapan dakwah di Yatsrib. Dakwah beliau di kota bertempatnya Masjidil Haram sejak tahun pertama hingga tahun ke-13 kenabian yang sangat maksimal itu mampu mengajak cukup banyak kabilah meski diliputi oleh segala tekanan dan keterbatasannya. Terlebih, Syaikh Munir Muhammad Al-Ghadban dalam Manhaj Haraki-nya mengatakan bahwa hasil usaha Rasulullah sudah dirasakan oleh seluruh kabilah.

“Bahkan, telah bergabung ke dalam masyarakat ini orang-orang dari segenap suku bangsa Quraisy dan lainnya, sehingga hampir tidak ada keluarga di Mekah kecuali satu atau dua orang anggotanya yang ikut serta membangun masyarakat ini.” (Al-Ghadban, 2009: 23)

2.2 Karakteristik Fase Makiyah

Ciri-ciri atau karakteristik penegakan agama pada fase makiyah ada beberapa macam. Karakteristik yang dapat kami sebutkan dalam makalah ini secara umum kami bagi menjadi empat bagian, yakni; aspek dakwah yang disentuh, tahapan-tahapannya, kebijakan-kebijakannya (baik sosial maupun politik), dan ayat-ayat yang diturunkan.

2.2.1 Aspek Dakwah

Aspek yang disentuh oleh Rasulullah saw pada fase makiyah adalah aspek akidah atau aspek yang berkaitan dengan hal-hal yang prinsip. Fakta tersebut diamini oleh analis-analis sirah pada khususnya, dan sejarah-baik umum maupun Islam-pada umumnya.

“Jalan yang ditempuh adalah dengan mengemukakan prinsip-prinsip dan pemikiran-pemikiran tersebut kepada manusia sedikit demi sedikit, sesuai dengan kepentingan prinsip-prinsip dan pemikiran-pemikiran tersebut dalam dakwah.” (Jabir, 2001: 171)

Ajakan Rasullah saw kepada masyarakat Mekah tidak lain adalah ajakan untuk bersyahadat, mengesakan Allah dan menjadikan Muhammad saw sebagai Nabi mereka. Muhammad saw telah melakukan upaya pemurnian akidah dengan dua kalimat syahadat.

Perlu diketahui, bahwa kafir Quraisy mengakui ada Rabb yang menjadi pemelihara alam semesta. Hal ini bukan berarti mereka tidak salah dalam hal tauhid rububiyah. Namun, paradigma kafir Quraisy tentang bentuk tauhid uluhiyah atau penghambaan mereka kepada Allah swt dengan menyembah berhala-berhala seperti Lata, Uzza, Manat, dan lain-lain adalah lebih keliru lagi.

أفرءيتم اللت والعزى ۝ ومنوةالثالثةالأخرى ۝

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” (Q.S. An-Najm: 19-20)

Tidak hanya itu, seperti yang sudah kami sampaikan di atas bahwa paradigma kafir Quraisy tentang tauhid rububiyah juga keliru. “Salah seorang dari tokoh-tokoh Quraisy berkata, ‘Kami menyembah para malaikat, karena mereka adalah anak-anak wanita Allah.’” (Hisyam, 2009: 250) Perkataan tersebut juga semakin memperlihatkan kekeliruan pola pikir kafir Quraisy dimana mereka menganggap malaikat merupakan anak-anak Allah swt.

Hancurnya kemurnian akidah inilah yang kemudian diperbaiki oleh Rasulullah saw untuk mengarahkan manusia kepada akidah yang benar, bukan hanya berdasarkan ikatan kekerabatan atau kekeluargaan. Membela ajaran bukan karena yakin bahwa ajaran itu benar, tetapi hanya malu karena tidak meneruskan warisan nenek moyang. Mengenai hal ini-akidah karena kekeluargaan, Allah telah memberi peringatan keras.

وإذاقيل لهم اتبعواماأنزل الله قالوابل نتبع ماألفيناعليهءاباءنا أولوكانءاباؤهم لايعقلون شئا ولايهتد ون

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami’. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Q.S. Al-Baqarah: 170)

2.2.2 Tahapan-Tahapan

Kebertahapan adalah keniscayaan dalam sebuah proses apapun yang dilakukan oleh manusia sejak dahulu hingga sekarang. Rasulullah saw dalam usahanya menegakkan Islam juga memiliki tahapan dakwah tersendiri. Tahapan dakwah, khususnya fase makiyah, menurut Munir Al-Ghadban terbagi ke dalam tiga periode, yaitu; berdakwah secara sembunyi-sembunyi dan merahasiakan struktur organisasi (sirriyatu da’wah wa sirriyatu tanzim), berdakwah secara terang-terangan dan merahasiakan struktur organisasi (jahriyatu da’wah wa sirriyatu tanzim), serta mendirikan negara (iqamatu daulah).

1. Berdakwah secara sembunyi-sembunyi dan merahasiakan struktur organisasi

Pertama, periode sirriyatu da’wah wa sirriyatu tanzim dimulai sejak turunnya wahyu pertama di Gua Hira hingga tahun ketiga kenabian. Pernyataan ini didukung oleh Ibnu Ishaq yang dikutip oleh Ibnu Hisyam dan Munir Al-Ghadban dalam Manhaj Haraki-nya. Pada masa ini, Rasulullah mengajak kepada kerabat-kerabat dekatnya atau kepada orang-orang tertentu saja. Metode ini dilakukan pada permulaan dakwah karena diperlukan orang-orang yang amanah yang Rasulullah tsiqah terhadap mereka. Ajakan beliau secara langsung disampaikan kepada Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, dan Zaid bin Haritsah.

Selain itu, Abu Bakar juga mengajak kerabat-kerabat dekatnya. Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam (Ibnu Hisyam) mencatat ada tujuh belas orang yang masuk Islam karena dakwah Abu Bakar, diantaranya; Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abu Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, Amir bin Fuhairah, Sa’id bin Ash, Hathib bin Amr, Abu Hudzaifah bin Rabi’ah, Waqid bin Abdullah, Khalid, Amir, Aqil, Iyas (empat orang terakhir berasal dari Bani Bukair), Ammar bin Yasir, dan Shuhaib bin Sinan. (Hisyam, 2009: 214-218)

Bahkan, Munir Al-Ghadban mencatat sebanyak 56 orang yang masuk Islam pada masa ini. Kesemuanya mewakili hampir semua kabilah yang ada di Mekah saat itu, diantaranya Bani Hasyim, Bani Umaiyah, Bani Makhzum, Bani Taim, Bani Adi, Bani Zuhrah, Bani Sahm, Bani Jameh, Bani Asad, Bani Amir. (Al-Ghadban, 2009: 25)

2. Berdakwah secara terang-terangan dan merahasiakan struktur organisasi

Periode kedua ini diawali ketika Allah swt berfirman kepada Rasulullah saw untuk menyebarkan dakwah secara terang-terangan. Seperti telah dibahas sebelumnya, periode ini dimulai pada tahun ketiga kenabian.

Ibnu Ishaq berkata, ‘Kemudian orang-orang masuk Islam; laki-laki dan perempuan secara bergelombang, hingga pembahasan tentang Islam menyebar di Mekah, dan Islam menjadi bahan perbincangan. Setelah itu Allah Azza wa Jalla memerintahkan RasulNya mengungkapkan apa yang beliau bawa daripadaNya dengan terang-terangan, memperlihatkan perintah Allah kepada manusia, dan mengajak mereka kepadaNya. Rentang waktu antara Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam merahasiakan perintahNya hingga Allah Ta’ala memerintahkan beliau memperlihatkan perintahNya ialah tiga tahun-sebagaimana disampaikan kepadaku.’” (Hisyam: 2009: 219)

Landasan bergerak Rasulullah saw saat itu adalah sebagaimana bunyi ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah swt mengenai hal ini. Lalu, diantara ayat yang berkenaan dengan hal ini adalah Q.S. Al-Hijr: 94, Q.S. Asy-Syu’ara: 214-215, dan Al-Hijr: 89. Ayat-ayat ini pulalah yang mendasari peristiwa Bukit Shafa, yakni ketika Rasulullah memanggil orang-orang Quraisy untuk berkumpul di dekatnya.

Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir mengutip dari Bukhari, Fathul Bari, Muslim, dan Ahmad. “Rasulullah saw bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu jika aku kabarkan kepadamu bahwa di balik bukit ini ada seekor kuda yang akan keluar, apakah kalian akan membenarkan aku?’ Mereka menjawab, ‘Kami belum pernah mendapati kamu berdusta.’ Nabi bersabda, ‘Maka sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepadamu dari siksaan yang pedih.” (2001: 175)

فاصدع بماتؤمروأعرض عن المشركين

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik” (Q.S. Al-Hijr: 94)

وأنذرعشيرتك الأقربين۝ واخفض جناحك لمن اتبعك من المؤمنين۝

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Q.S. Asy-Syu’ara: 214-215)

وقل إنى أناالنذيرالمبين

“Dan katakanlah: ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.’” (Q.S. Al-Hijr: 89)

3. Mendirikan negara

Periode ini diawali saat Rasulullah saw mulai keluar dari Mekah. Beliau mengubah taktik dakwah yang semula berpusat di Mekah dengan beralih ke wilayah lain yang kondusif. Periode ini berbeda dari dua periode sebelumnya dalam dua hal asasi.

“Pertama, untuk pertama kali Rasulullah saw pergi ke luar Mekah dan berpikir untuk mengubah markas pergerakan (markazul inthilaq).” (Al-Ghadban, 2009: 168) Ternyata, dalam usaha pertamanya, Rasulullah saw pergi menuju tempat yang terdekat dari Mekah, Bani Tsaqif di Thaif. “Kedua, untuk pertama kalinya dan dalam periode ini pula kita temui unsur meminta pembelaan.” (Al-Ghadban, 2009: 168)

Periode ini merupakan masa pencarian Rasulullah terhadap tempat yang benar-benar mendukungnya, tempat yang benar-benar akan menyediakan kondisi dakwah yang kondusif. Salah satu contohnya, Rasulullah saw mengutus Mush’ab bin Umair sebagai Duta Islam pertama ke Yatsrib. “Tugasnya adalah mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berbai’at kepada Rasulullah di bukit Aqabah.” (Khalid, 2007: 5)

2.2.3 Kebijakan Sosial-Politik

Perbedaan mendasar antara kondisi sospol (sosial-politik) kaum muslimin pada fase makiyah dengan madaniyah adalah dominasinya. Umat Islam begitu mendominasi-dari sisi kuantitas, bahkan ketika Rasulullah saw baru menginjakkan kakinya di Yatsrib. Dukungan penuh dari kaum penolong (anshar) diberikan kepada beliau dan orang-orang yang hijrah (muhajirin). Ironis, karena beliau justru tidak mendapatkan dukungan dari para keluarga atau kerabat dekatnya di Mekah.

Oleh karena itu, berbeda pula kebijakan sospol yang diambil oleh Rasulullah saw, beliau menghindari konfrontasi langsung. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya kebijakan perang saat umat Islam masih berada di Mekah (belum diperintahkan berhijrah).

“Diantara rambu dakwah yang paling menonjol pada masa sebelum hijrah ialah penyebaran dakwah, pembentukan nilai-nilai dakwah, dan pelarangan segala bentuk fisik.” (Jabir, 2001: 190)

“Sebelum terjadinya baiat Al-Aqabah, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam tidak diizinkan berperang dan darah tidak dihalalkan bagi beliau. Beliau hanya diperintahkan berdakwah kepada jalan Allah, bersabar terhadap semua gangguan, dan memaafkan orang bodoh.” (Hisyam, 2009: 421)

Menurut kami, kebijakan tersebut bukan hanya karena Allah swt belum menurunkan ayat yang berisi tentang perintah untuk berperang, tetapi juga didukung oleh realitas yang ada dimana jumlah umat Islam belum memungkinkan untuk menyerang pemuka-pemuka kafir Quraisy. Berikut adalah beberapa firman Allah swt yang mengindikasikan bahwa umat Islam saat itu diperintahkan untuk menahan diri dari menyerang.

ذرنى ومن خلقت وحيدا

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.” (Q.S. Al-Mudatsir: 11)

كفواأيديكم وأقيمواالصلوةوءاتواالزكوة

“…Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!…” (Q.S. An-Nisa: 77)

وذرنى والمكذبين أولى النعمةومهلهم قليلا

“Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar.” (Q.S. Al-Muzammil: 11)

2.2.4 Karakteristik Ayat-Ayat yang Diturunkan

Ayat Al-Quran yang diwahyukan pada fase makiyah berbeda isi dengan apa yang diwahyukan pada fase madaniyah. Hal ini sangatlah wajar bila kita memahami apa yang sudah kami jabarkan di atas. Selain karena masih meruyaknya perbuatan-perbuatan tercela disebabkan kekeliruan dalam memahami akidah yang lurus, juga karena cahaya ini baru menginjak pada dekade pertamanya. Menurut para ulama, ayat Al-Quran yang diturunkan semasa fase makiyah memiliki ciri sebagai berikut:

  1. Diawali dengan ‘yaa ayyuhannaas
  2. Berkenaan dengan masalah akidah; syirik, pengesaan Allah swt, meyakinkan kerasulan Muhammad saw
  3. Pendek atau tidak terlalu panjang

Analisis Fase Madaniyah

3.1 Hijrah dan Ekspedisinya

Peristiwa hijrah Nabi saw beserta para pengikutnya dari Mekah ke Madinah bukan lahir sebuah proses yang mudah. Sebelumnya, Rasulullah saw sudah acap kali melakukan ekspedisi. Diantaranya yang terkenal adalah peristiwa Rasulullah saw pergi ke Bani Tsaqif. Kemudian, sahabat-sahabat Rasulullah saw berpencar ke penjuru jazirah Arab.

Inilah yang perlu kita garis bawahi, Rasulullah saw sebenarnya sedang mencari tempat yang sangat kondusif, tempat yang mayoritas masyarakatnya-minimal-berafiliasi kepada Islam. Sebab, dengan tempat kondusiflah beliau dapat menanamkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Rasulullah saw pun dapat dengan tenang membangun sendi-sendi peradaban Islam.

3.2 Karakteristik Fase Madaniyah

Secara umum karakteristik fase madaniyah akan kami bagi ke dalam empat bagian seperti karakteristik fase makiyah di atas. Hanya saja, karakteristik fase madaniyah akan sedikit lebih kompleks karena penegakan Islam yang dilakukan pada periode ini menyangkut seluruh aspek kehidupan. Pada periode II inilah Islam secara bertahap ditegakkan sebagai suatu pedoman yang syumul.

3.2.1 Aspek Dakwah

Aspek yang disentuh oleh Rasulullah saw pada fase madaniyah sudah bertambah dengan adanya aspek pemerintahan, ekonomi, pertahanan, manajemen sumber daya, dan hukum. Pada masa ini juga Rasulullah saw melakukan ekspansi wilayah Islam.

Periode ini merupakan saat dimana pembukaan, bukan penaklukan (conquer), sudah diperbolehkan oleh Allah swt. Dalam gambar di bawah ini kita dapat melihat wilayah-wilayah Arab yang dikuasai oleh umat Islam.

Gambar 3.2.1 Peta Wilayah Islam Hingga Khalifah Abu Bakar. Sumber: Historical Atlas of Islam. Malise Ruthven with Azim Nanji. Harvard University Press. 2005. Pg. 27.

Pada masa ini (622 M s.d. 632 M) Rasulullah saw melakukan, seperti yang disebut oleh banyak orang, objektifikasi nilai-nilai Islam kepada seluruh aspek kehidupan. Masa ini juga merupakan saat-saat dimana Rasulullah saw beserta kaum muslimin mengimplementasikan secara utuh ajaran Islam. Sehingga, Hasan Al-Banna menyimpulkan bahwa Islam adalah “…agama dan negara, pemerintahan dan rakyat, mushaf dan pedang…” (Al-Banna, _: 3)

3.2.2 Tahapan

Munir Al-Ghadban membagi fase madaniyah ke dalam dua tahapan pengembangan kekuasaan Islam, yaitu; Negara dan Penguatan Pilar-Pilarnya serta Perjuangan Politik dan Kemenangan Risalah. Namun, secara sederhana dan juga sesuai dengan apa yang telah kami sebutkan di atas, periode II ini kami bagi ke dalam delapan tahun pertama dan dua tahun berikutnya.

Delapan tahun pertama merupakan masa penguatan dengan membangun satu demi satu sendi-sendi Islam di masyarakat. Markas pusat pada saat itu adalah Madinah. Tetapi, pada masa tersebut kaum muslimin bukan berarti tidak memikirkan bagian luar Madinah. Mereka tetap berperang, bahkan sangat sering. Ketika kaum muslimin hendak melakukan peperangan, maka Rasulullah saw akan mendelegasikan satu orang sebagai pemimpin pengganti sementaranya di Madinah.

Dua tahun menjelang Rasulullah saw wafat, beliau dan kaum muslimin berhasil membuka Mekah menjadi markas kedua kaum muslimin. Dengan semakin banyak kuantitas penganut maupun wilayah Islam, maka posisi Islam di mata kerajaan-kerajaan sekitarnya, baik kecil maupun besar, sangat diperhitungkan. Hal ini yang berefek pada ekspansi besar-besaran wilayah Islam pada masa Khalifah empat.

3.2.3 Kebijakan Sosial-Politik

Dengan kekuatan yang terbilang besar, kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah saw dan disertai dengan turunnya firman Allah swt, mengubah kebijakan pertahanannya. Sebagaimana yang telah kami sampaikan sebelumnya bahwa Allah swt memerintahkan kepada kaum muslimin melalui RasulNya untuk menahan diri dari konfrontasi langsung.

Lain Mekah, lain Madinah. Sejak hijrahnya Rasulullah saw dan sebagian besar muslim Mekah ke Madinah, Allah swt menurunkan ayat tentang diizinkannya perang. Maka, dimulailah peperangan antara kaum muslimin dengan musyrikin, setelah melalui sariyyah (ekspedisi) yang cukup panjang.

أذن للذين يقتلون بأنهم ظلمواوإن الله على نصرهم لقدير

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu,” (Q.S. Al-Hajj: 39)

Ibnu Hisyam mencatat banyak perang besar yang dimasukkan sebagai sub bab dalam sirahnya. “Total ghazwah (perang) yang dilakukan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam sendiri ialah dua puluh tujuh ghazwah (perang).” (Hisyam, 2009: 594)

Perang-perang tersebut diantaranya adalah Perang Waddan, Buwath, Al-Qusyairah, Badar I, Badar Kubra, Bani Sulaim (tujuh hari setelah Perang Badar), As-Sawiq (Dzulhijjah 1 H), Dzi Amar (Shafar 1 H), Al-Furu’/Bahran (Rabiul Akhir 1 H), Uhud (15 Syawal 2 H), Hamraul Asad (beberapa hari setelah Perang Uhud), Ar-Raji’/Bani Nadhir (3 H), Dzatu Ar-Riqa’ (4 H), Badar terakhir (Sya’ban 4 H), Daumatul Jandal (Rabiul Awal 5 H), Khandaq (5 H), Bani Quraidhah (5 H), Bani Lahyan (Jumadil Ula 6 H), Dzu Qarad, Bani Al-Mushthaliq (Sya’ban 6 H), Hudaibiyah, Khaibar (Muharram 7 H), Mu’tah (Jumadil Ula 8 H), Fat-hu Mekah (Ramadhan 8 H), Hunain (8 H), Thaif (9 H), dan Tabuk (9 H).

Nama perang yang bercetak tebal ialah sembilan peperangan yang berakhir dengan pertempuran. Sementara sisanya berakhir dengan gencatan senjata ataupun perjanjian damai.

Selain kebijakan pertahanan, aspek lain yang juga berubah adalah kebijakan sosial. Logika perubahannya sangatlah sederhana, jumlah kaum muslimin saat ini lebih dominan. Oleh sebab itu, Rasulullah saw dan kaum muslimin kini memiliki bargaining position yang kuat, tidak seperti saat di Mekah. Dari masa tersebut, manusia-manusia abad ini seharusnya dapat mengambil pelajaran. Misalnya, kaum muslimin tetap berlaku adil kepada non muslim dalam kaitannya dengan kehidupan sosial dan bernegara. Sistem hukum Islam yang diterapkan dalam daulah Islamiyah tetap menjamin keadilan bagi setiap orang yang berada di dalamnya.

3.2.4 Karakteristik Ayat-Ayat yang Diturunkan

Ayat-ayat yang diturunkan pada fase madaniyah (ayat madaniyah) mempunyai separasi yang jelas antara kaum muslimin, munafiqin, dan musyrikin. Hal ini karena pada masa tersebut muncul orang-orang yang bermuka dua. Kemudian, ciri lain dari ayat madaniyah yaitu panjang. Walaupun tidak semuanya panjang, namun mayoritas ayat madaniyah memang panjang.

Ayat yang kami sebutkan pada halaman pembuka makalah ini (Q.S. Al-Maidah: 3) termasuk ayat madaniyah meskipun diturunkan di Arafah. Karena, perbedaan ayat makiyah dan madaniyah ialah pada waktu diturunkannya, bukan tempat diturunkannya.

Ciri terakhir dari ayat madaniyah ialah membahas masalah ibadah-ibadah wajib, seperti shalat, zakat, shaum, dan lainnya. Berbeda dengan ayat makiyah yang membahas tentang akidah.

Kesimpulan

Dengan berakhirnya analisis fase makiyah dan madaniyah dalam penegakan agama ini, maka kami memiliki beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Membangun batu bata peradaban Islam hendaknya dimulai dari hal-hal yang asasi atau fundamental. Kami memandang bahwa menyusun pondasi agama ini sangat penting sekali. Ini ditandai dengan lebih lamanya Rasulullah saw berdakwah pada fase pertama yang hanya berfokus pada satu aspek pembinaan dibanding fase kedua yang justru permasalahannya semakin kompleks dan penuh divergensi. Pola ini kemudian dikenal dengan menguatkan pondasi (fase makiyah) dan objektifikasi nilai-nilai Islam (fase madaniyah).
  2. Menguatkan aspek lain hendaknya dilakukan dalam tempat yang kondusif. Kalau bisa, tempat yang memberikan 100% dukungannya kepada pembinaan Islam. Namun, hal tersebut sangatlah sulit. Dalam contoh Rasulullah saw, minimal, daerah tersebut-dalam hal ini Madinah-minimal Islam didukung oleh mayoritas sehingga memiliki bargaining position yang kuat.
  3. Perbedaan antara ayat makiyah dan madaniyah adalah pada waktu, bukan pada tempat. Ayat makiyah adalah ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan Allah swt sebelum hijrah. Sedangkan, ayat madaniyah adalah ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan Allah swt setelah hijrah.
  4. Tahapan-tahapan yang ada pada masa Rasulullah saw menegakkan agama, baik saat fase I maupun II hendaknya tidak dipahami dengan patokan waktu. Tetapi, pada tujuan yang ingin dicapai. Jika saja satu tujuan pada tahap tertentu sudah tercapai, maka tidak perlu menunggu waktu lagi untuk menuju kepada tahapan berikutnya.
  5. Setelah berdiri daulah Islamiyah, maka keberadaan seorang pemimpin adalah wajib. Hal ini terbukti saat Rasulullah saw pergi melakukan peperangan dengan keluar dari Madinah. Beliau langsung menunjuk satu orang sebagai pengganti sementara pemimpin di Madinah.

Daftar Pustaka

Al-Banna, Hasan. _. Muktamar Keenam. _:_.

Al-Buti, Muhammad Sa’id Ramadhan. 1983. Fiqh Al-Sirah 1. _: Dewan Pustaka Fajar.

Al-Ghadban, Syaikh Munir Muhammad. 2009. Manhaj Haraki 1. Jakarta: Robbani Press.

Al-Ghadban, Syaikh Munir Muhammad. 2009. Manhaj Haraki 2. Jakarta: Robbani Press.

Hisyam, Abu Muhammad Abdul Malik bin. 2009. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1. Jakarta: Darul Falah.

Hisyam, Abu Muhammad Abdul Malik bin. 2009. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 2. Jakarta: Darul Falah.

Husaini, Adian. 2009. Membendung Arus Liberalisme di Indonesia. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Jabir, Hussain bin Muhammad bin Ali. 2001. Menuju Jama’atul Muslimin. Jakarta: Robbani Press.

Khalid, Khalid Muhammad. 2007. 60 Sirah Sahabat Rasulullah saw. Jakarta: Al-I’tishom.

Martin, Richard C. 2003. Encyclopedia of Islam and the Muslim World. New York: Macmillan Reference.

Ruthven, Malise dan Azim Nanji. 2005. Historical Atlas of Islam. Cambridge: Harvard University Press.

Sardar, Ziauddin. 2000. Jihad Intelektual. Surabaya: Risalah Gusti.

——————–

*) Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Elektro dan Komunikasi, Institut Teknologi Telkom dan Ketua Departemen Kajian Strategis KAMMI Komisariat IT Telkom 2009/2010

One response to “Penegakan Agama Perspektif Sirah

  1. Ping-balik: 2010 in review « Militansi Tanpa Batas·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s