Menegakkan Agama Perspektif Sirah

Konstelasi politik Indonesia pasca reformasi menjadi lebih atraktif dan reaktif. Pembukaan jalur informasi kepada pers berdampak pada kecepatan bergulirnya isu di masyarakat dengan cepat. Terlebih, memasuki era information superhighway, manusia pelosok desa bisa mengetahui berita yang ada di belahan bumi lainnya. Terbukanya ruang informasi yang demikian luas memberikan angin segar bagi organisasi yang dulunya terkekang.

Kebebasan setelah orde baru yang multitafsir tersebut ibarat bola yang sedang mengapung di udara. Siapa cepat, dia dapat. Siapa yang bisa menggulirkan isu dengan lebih cepat dan meyakinkan, maka akan diserap secara langsung oleh masyarakat. Politik tidak lagi dimonopoli oleh pemerintah yang berkuasa, namun telah menjadi lapangan tarung yang penuh dengan terowongan rahasia. Pertarungan berbagai ideologi yang memiliki kepentingan sama, yaitu kekuasaan!

Pada dasarnya kutub keberpihakan hanya ada dua; benar dan salah, atau putih dan hitam. Tetapi, pers selaku distributor informasi acap kali membuatnya abu-abu, atau bahkan warna-warni. Komponen politik yang berada di belakang media massa disinyalir telah merusak orisinalitas informasi. Hal ini tentu tidak dibiarkan oleh calon-calon penguasa bertitel partai politik dengan bermacam-macam ideologi dan strategi.

Mempartisi Tahapan Penegakan Islam

Sebagai seorang muslim, sudah merupakan semangat lahir-batin untuk selalu berusaha mengimplementasikan Islam secara kaffah (komprehensif). Ruang-ruang terbuka tadi menjadi peluang bagi kaum muslimin untuk menggulirkan nilai-nilai Islam di masyarakat. Gerakan masif seluruh simpul-simpul Islam dibutuhkan untuk beradu dengan gerakan pengusung ideologi destruktif yang oportunis.

Kondisi keislaman masyarakat muslim Indonesia ketika keluar dari pengekangan 32 tahun sangat rapuh. Pola berpikir yang jauh dari pola berpikir Islam. Sangat kontras jika kualitas dan kuantitas muslim Indonesia dibandingkan, mendekati sabda Rasulullah, “…bagai buih di lautan,” na’udzubillah. Perapuhan akidah sejak zaman penjajahan Belanda yang dimotori orientalis Dr. Snouck Hurgronje itu, kini sedang diperbaiki oleh seluruh penggerak Islam. Organisasi masyarakat, partai politik, gerakan mahasiswa dan pelajar, serta elemen lain berasaskan Islam sudah berhamburan keluar dari tempat hibernasinya.

Semangat menegakkan agama ini perlu menilik kepada kesuksesan yang pernah dicontohkan oleh Muhammad SAW. Adapun tahapan beliau biasanya disepakati oleh para ulama dengan membagi ke dalam dua fase, yaitu:

  1. Fase Makkiyah, fase penggojlokan akidah sebelum hijrah Nabi dan umatnya ke Yatsrib (Madinah). Perlawanan yang begitu keras dari kafir Quraisy membuat hanya segelintir orang yang bertahan hingga tiga belas tahun lamanya. Namun, hasil rekrutasi fase mekah-lah yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin besar Islam. Fase ini juga dikenal sebagai fase sirriyatu da’wah wa sirriyatu tanzim (dakwah secara diam-diam dan struktur organisasi yang tersembunyi).
  2. Fase Madaniyah, fase pemasyarakatan nilai-nilai Islam di masyarakat, terutama masyarakat Madinah, setelah hijrah. Pada fase ini, jumlah muslim melesat melebihi angka seratus ribu. Fase ini juga dikenal sebagai fase jahriyatu da’wah wa jahriyatu tanzim (dakwah secara terang-terangan dan struktur organisasi yang jelas).

Objektifikasi Nilai-Nilai Islam

Menarik jika mencermati fase madaniyah, saat Islam mulai diimplementasikan secara keseluruhan. Politik, ekonomi, sosial, budaya (tradisi), dan militer merupakan perangkat yang dijalankan menggunakan syariat Islam. Ditinjau dari lamanya fase madaniyah (10 tahun), dapat menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai Islam di masyarakat Madinah bukan menggunakan prinsip revolusi, melainkan bertahap.

Muhammad SAW bersama as-sabiqun al-awalun dengan cerdas mentransformasi syariat Islam dengan cara objektifikasi. Syariat Islam yang dijalankan oleh muslim dengan idealis, dirasa subjektif oleh non muslim. Masyarakat yang plural membutuhkan tata hukum yang umum. Misalnya, jika berbicara dalam konteks kenegaraan, maka hukum berlaku untuk semua warga negara.

objektifikasiSehingga, transformasi syariat Islam menjadi peraturan umum didapatlah dianggap sebagai implementasi syariat yang masih pragmatis. Namun, tanpa memasuki ranah agama atau kepercayaan atau ideologi, peraturan umum tadi cenderung bersifat baik dan dianggap baik pula oleh masyarakat secara umum. Maka, syariat Islam akan tetap objektif dilihat dari kacamata penganut agama apapun. Contoh nyata adalah Perda zakat yang diobjektifikasi untuk non muslim dengan iuran atau sumbangan yang diarahkan untuk warga tidak mampu. Hudud dan Jinayat yang ditransformasi dengan pendekatan norma dan etika orang Timur.

Dalam konteks kekinian dan keIndonesiaan, maka pengemban tugas objektifikasi atau transformasi syariat Islam ini lebih dekat kepada pejabat pemerintah dan para anggota dewan. Pun sebagai negara hukum, Indonesia sewajarnya dapat mengadopsi metode iqamatuddin Rasulullah SAW dengan segala perangkatnya. Lawan berat yang harus diterjang untuk penegakkan kalimat laa ilaaha illallah hanyalah setan dalam bentuk jin dan dalam bentuk manusia. Hanya kepada Allah kita berlindung.

Bandung, 26 Juni 2009
Rama Permana
Pengurus KAMMI Komisariat IT Telkom
Masa Kepengurusan 2009-2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s