HOME: “Save The Earth”

Info: http://www.imdb.com/title/tt1014762/

Film global ambisius berjudul “HOME” karya Yann Arthus-Bertrand yang diputar serentak di seratus sembilan negara, 5 Juni lalu, membuat saya terperangah. Film tersebut diputar secara gratis di bioskop Cinema XXI dan Cinema 21 di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. HOME dapat diunduh secara gratis di situs video Youtube, tersedia hingga 15 Juli 2009.

Persiapan-Nya Untuk Manusia?

Film ini diawali dengan deskripsi bumi empat miliar tahun lalu. Alam dan mikroba yang sudah mulai hidup sejak lama itu kemudian diikuti oleh Homo Sapiens, manusia, 200 ribu tahun yang lalu. Namun, pola kehidupan dan tata lingkungan berubah drastis dalam dua ratus abad terakhir. Tidak lebih dari seratus tahun lalu, alam ini justru mengalami perubahan mencengangkan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Begitulah narasi awal film yang diproduksi oleh Elzévir Films dan EuropaCopr. itu.

“Dalam petualangan besar kehidupan di Bumi, setiap spesies memainkan peran, setiap spesies mendapat tempat. Tak ada yang sia-sia atau berbahaya. Semua saling menyeimbangkan. Dan di sinilah Anda, Homo sapiens, manusia bijak, memasuki cerita. Anda dimodali warisan 4 miliar tahun oleh Bumi. Anda baru berumur 200.000 tahun, tapi Anda sudah mengubah wajah bumi ini. Meskipun Anda memiliki kelemahan, Anda telah mengambil hak milik semua habitat dan menaklukkan banyak wilayah, lebih dari semua spesies yang pernah ada.” (HOME: 15’-16’)

Betapa lancangnya manusia dan betapa pemurahnya Allah. Manusia mengawali hidup dengan diberi warisan siklus alam yang sudah berjuta abad lamanya. Saya tidak bisa membayangkan, bilamana manusia diturunkan oleh Allah ketika suhu bumi masih sangat panas, ketika mikroba belum menjadi pohon, dan ketika air belum mengalir. Namun, muncul hampir empat miliar tahun setelahnya pun manusia sudah merusak alam hanya dalam waktu 200 ribu tahun kedatangannya disini.

Revolusi Kehidupan Manusia

“Setelah 180.000 tahun hidup nomaden[1], dan berkat iklim yang ramah, manusia menjadi mapan. Tak lagi menggantungkan diri dengan berburu. Mereka memilih hidup di lingkungan basah yang kaya dengan ikan, hewan dan tanaman liar. Di tempat ini daratan, air, dan kehidupan bergabung jadi satu. Bahkan hari ini pun, mayoritas umat manusia[2], hidup di garis pantai daratan atau di muara sungai dan danau.” (HOME: 16’-17’)

Revolusi pertama yang dilakukan manusia adalah bidang pertanian. “Setelah beras gandum menjadi benih kehidupan, kita menggandakan jumlah varietas,” lanjutnya. Manusia mulai belajar untuk menyesuaikannya dengan tanah dan iklim setempat. Pada masa ini, pencarian makanan adalah pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang setiap hari.

Kedua, pemanfaatan panas bumi yang dihasilkan alam sejak 100 juta tahun lalu. The Pocket of Sunlight[3] ini menjadi karunia besar-Nya. Bagaimana tidak, dalam satu usia rata-rata hidup manusia, 50 tahun, “bumi telah berubah drastis lebih daripada oleh seluruh generasi manusia yang sebelumnya.” Manusia meninggalkan otot untuk mengolah makanan, sementara derungan mesin mulai menggaung di pusat-pusat peradaban.

Cara praktis ini memicu manusia untuk memproduksi varietas di sekitarnya dengan jumlah banyak, begitu pula manusia di tanah yang berbeda. Produksi tanaman besar-besaran membutuhkan air yang tidak sedikit, contoh; untuk menghasilkan 1kg kentang dibutuhkan 100 liter air, 1kg beras butuh 4.000 liter air, dan 1kg daging sapi butuh 13.000 liter air.

“Lebih cepat dan lebih cepat. 60 tahun terakhir, populasi Bumi hampir menjadi tiga kali lipat. Dan lebih dari 2 miliar orang pindah ke perkotaan. Lebih cepat dan lebih cepat. Shenzhen, di China, dengan ratusan pencakar langit dan jutaan warga, tahun yang lalu hanyalah desa nelayan kecil. Lebih cepat dan lebih cepat. Di Shanghai, 3.000 menara dan pencakar langit dibangun dalam 20 tahun terakhir. Ratusan lagi sedang dibangun.” (HOME: 24’-25’)

Energi fosil ini benar-benar mengubah wajah dunia dalam aspek hubungan antar negara. Ramainya ekspor-impor bermula dari pemanfaatan energi tak terbarukan ini menjadi bahan bakar kendaraan. Kita dapat menyaksikan Dubai membangun daratan diatas lautan, juga membangun salah satu gedung pencakar langit tertinggi di dunia. Padahal, kekayaannya hanya minyak bumi. Sebuah narasi dalam film ini berbunyi “Tak ada yang lebih jauh dari alam daripada Dubai, walaupun tak ada yang lebih bergantung pada alam daripada Dubai.”

Ketiga, sesuatu akan mencapai titik saturasinya (jenuh-red), maka ini pula yang terjadi pada kondisi alam. Fakta yang mencengangkan datang dari Los Angeles, jumlah mobil hampir sama dengan jumlah penduduknya. Transportasi laut pun tak mau luput dari berita, 500 juta kontainer harus diangkut via kapal laut setiap tahunnya. Modernisasi versi manusia ini telah meluluhlantakkan siklus alam. Alhasil, seabad terakhir ini separuh lahan basah telah kering.

“Hutan menyediakan kelembapan yang diperlukan kehidupan. Menyimpan karbon, lebih dari yang terkandung di seluruh atmosfer Bumi. Merekalah batu pojok keseimbangan iklim yang amat kita perlukan. Hutan-hutan utama ini menjadi habitat tiga perempat keanekaragaman hayati bumi. Dengan kata lain, seluruh kehidupan di bumi. Hutan-hutan ini menyediakan obat untuk menyembuhkan kita. Zat-zat yang dikeluarkan tanaman di sini dapat dikenali oleh tubuh kita. Karena selnya berbicara bahasa yang sama. Kita semua sekeluarga.”

Sungguh luar biasa, manusia diberi hubungan biologis dengan alam yang ada di sekitarnya. Tak dapatlah kita bayangkan jikalau manusia tak mendapat manfaat dari pohon-pohon yang ada di dunia. Untuk itu, perlindungan terhadap hutan merupakan sesuatu yang mutlak agar fithrah keseimbangan alam yang sudah diciptakan-Nya tidak acak-acakan.

Hutan amazon menjadi sorotan karena hanya dalam 40 tahun, hutan hujan terbesar di dunia ini telah berkurang 20%. Saya terkejut ketika pulau terbesar ke-4 di dunia, Borneo, juga menjadi pembahasan tentang rusaknya hutan. Selain itu, ada pula Pulau Rapa Nui, Provinsi Valparaiso, Chili, yang mengalami erosi sangat hebat akibat ketidakmampuan penduduknya menyeimbangkan pemanfaatan hasil alam.

Akhirnya, penelitian dengan hasil jungkir balik mudah ditemui. Misalnya, setengah penduduk miskin dunia tinggal di negara yang alamnya kaya, atau separuh kekayaan dunia berada di tangan 2% populasi terkaya, atau bahkan karena kekuasaan, 80% kekayaan mineral dikonsumsi oleh 20% populasi dunia.

Kenyataan lain yang disebutkan pada penutup segmen ketiga ini, diantaranya:

  1. Dunia menghabiskan dana untuk militer 12 kali lebih banyak daripada untuk menolong negara berkembang
  2. 5.000 orang mati setiap hari karena air minum yang kotor
  3. 1 miliar orang tidak memiliki akses ke air minum yang aman
  4. Lebih dari 50% beras gandum yang diperdagangkan di seluruh dunia dipakai untuk pakan hewan atau bahan bakar
  5. 40% lahan yang dapat ditanami mengalami kerusakan jangka panjang
  6. Setiap tahun, 13 juta hektar hutan lenyap
  7. 1 dari 4 mamalia, 1 dari 8 burung, 1 dari 3 amfibi terancam punah
  8. Spesies punah dengan kecepatan 1.000 kali lebih cepat dari kecepatan alaminya
  9. Tiga perempat tempat menangkap ikan telah kehabisan, atau amat berkurang.
  10. Suhu rata-rata 15 tahun terakhir tertinggi sepanjang sejarah.
  11. Es kutub 40% lebih tipis dibanding 40 tahun lalu

Penutup yang Optimis

Berikut adalah narasi penutup dari film HOME. Saya mencoret beberapa kalimat yang tidak saya setujui. Untuk lebih jelasnya, silakan nikmati hasil karya besar tahun 2009 ini.

Bukan waktunya lagi menjadi pesimis. Saya tahu setiap manusia dapat merobohkan tembok

Bukan waktunya lagi menjadi pesimis. Di seluruh dunia, 4 dari 5 anak bersekolah. Sepanjang sejarah, pendidikan kini diberikan pada lebih banyak orang. Setiap orang, dari yang terkaya hingga termiskin, dapat memberi sumbangsih. Lesotho, salah satu negara termiskin, secara relatif salah satu yang paling banyak berinventasi dalam pendidikan. Qatar, salah satu negara terkaya, telah membuka diri untuk universitas-universitas terbaik. Kebudayaan, pendidikan, riset dan inovasi adalah sumber daya terbarukan

Dihadapkan pada kesengsaraan dan penderitaan, jutaan NGO membuktikan bahwa solidaritas antara manusia lebih kuat daripada ego negara. Di Bangladesh, ada orang yang bertindak luar biasa mendirikan bank yang hanya memberi pinjaman pada yang miskin. Dalam 30 tahun, telah mengubah kehidupan 150 juta penduduk. Antartika adalah benua dengan banyak sumber alam yang bukan milik hanya satu negara, Cadangan alami untuk perdamaian dan ilmu pengetahuan. Perjanjian yang ditandatangani 49 negara untuk membuat Antartika harta milik seluruh umat manusia

Bukan waktunya lagi menjadi pesimis. Pemerintah telah bertindak melindungi hampir 2% perairan. Tidak banyak, tapi ini 2 kali lebih dibandingkan 10 tahun lalu. Taman-taman lindung baru dibuat sekitar seabad lalu. Totalnya mencakup lebih dari 13% daratan. Menyediakan ruang tempat aktivitas manusia berjalan seiring dengan perlindungan spesies, tanah, dan lanskap. Harmoni antara manusia dan alam menjadi kewajaran, dan bukan lagi perkecualian. Di AS, New York telah merealisasikan apa yang dilakukan alam untuk kita. Hutan dan danau ini menyediakan air minum bagi seluruh kota.

Di Korsel, hutan telah hancur oleh perang. Berkat program nasional penghutanan kembali, kini hutan kembali menutupi 65% negara. Lebih dari 75% kertas adalah daur ulang. Kosta Rika telah menentukan pilihan antara pengeluaran militer dan konservasi tanah. Negara ini tak lagi punya angkatan bersenjata[4]. Lebih memilih mengerahkan sumber daya untuk pendidikan, wisata alami dan perlindungan hutan utamanya. Gabon adalah negara penghasil utama kayu di dunia. Mewajibkan penebangan pilih. Tidak lebih dari 1 pohon per hektar. Hutan adalah salah satu sumber alam paling penting bagi negara tersebut yang diberi waktu untuk regenerasi. Telah ada program untuk menjamin pengelolaan hutan berkesinambungan. Program tersebut harus diwajibkan. Untuk konsumen dan produsen, ada peluang keadilan untuk dicapai. Saat perdagangan adil, saat pembeli dan penjual sama-sama untung, setiap orang dapat makmur dan berpenghasilan cukup. Tapi bagimana bisa ada keadilan dan pemerataan antara petani yang hanya menggunakan tangan dan yang menggunakan mesin ditambah lagi subsidi negara? Marilah menjadi konsumen bertanggung jawab. Renungkan apa yang kita beli!

Bukan waktunya lagi menjadi pesimis. Saya telah melihat pertanian dalam skala manusiawi. Dapat memberi makan seluruh planet jika produksi daging tidak merebut makanan dari manusia. Saya telah melihat nelayan yang peduli akan tangkapan mereka dan peduli terhadap kekayaan laut. Saya telah melihat rumah yang memproduksi energi sendiri. 5.000 orang tinggal di distrik ramah lingkungan pertama di dunia di Freiburg, Jerman. Kota-kota lain menjadi partner proyek ini. Mumbai adalah yang keseribu. Pemerintah Selandia Baru, Islandia, Austria, Swedia dan negara lain telah mengembangkan energi terbarukan sebagai prioritas utama. 80% energi yang kita pakai berasal dari sumber fosil. Setiap minggu, dua pembangkit listrik tenaga batu bara dibangun di China. Tapi saya juga telah melihat, di Denmark, prototipe pembangkit tenaga batu bara yang melepas karbon ke tanah dan bukan ke udara. Solusi masa depan? Tak seorangpun tahu.

Saya sudah melihat, di Islandia, pembangkit listrik dari tenaga panas Bumi. Tenaga geotermal. Saya telah melihat ular laut berbaring di permukaan laut untuk menyerap energi dari ombak dan menghasilkan listrik. Saya telah melihat ladang angin di pantai Denmark yang memproduksi 20% listrik negara. AS, China, India, Jerman dan Spanyol adalah investor terbesar dalam bidang energi terbarukan. Telah menciptakan lebih dari 2,5 juta lapangan kerja. Bukankah angin bertiup di mana-mana? Saya telah melihat bentangan gurun terpanggang matahari. Segala sesuatu di Bumi terhubung satu sama lain, dan Bumi terhubung dengan matahari, sumber energi bumi yang pertama. Bisakah manusia meniru tanaman dan menangkap energinya? Dalam 1 jam, matahari memberi bumi energi sebanyak yang dikonsumsi seluruh umat manusia dalam satu tahun. Selama Bumi masih ada, tenaga surya tak akan habis[5]. Yang perlu kita lakukan hanyalah berhenti menggali bumi dan mulai melihat ke langit. Yang perlu kita lakukan hanyalah belajar memanen matahari.

Seluruh eksperimen ini hanyalah contoh, tapi mereka mencerminkan kesadaran baru. Mereka menjadi penanda petualangan baru umat manusia yang berdasar pada moderasi, kecerdasan dan saling berbagi. Saatnya berkumpul bersama. Yang penting bukanlah yang sudah hilang, tapi apa yang tersisa. Kita masih memiliki separuh hutan dunia, ribuan sungai, danau, dan glasir, dan ribuan spesies yang masih hidup. Kita tahu bahwa solusinya sudah ada hari ini. Kita bisa berubah. Jadi tunggu apa lagi?

Apa yang terjadi berikutnya kita sendiri yang memutuskan bersama-sama[6].

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah: 30)

Wallahu’alam

Cimahi, 20 Juli 2009
Rama Permana
Mahasiswa IT Telkom
Fak. Elektro dan Komunikasi
Teknik Telekomunikasi 2008

[1] Kelompok orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, berkelana dari satu tempat ke tempat lain, biasanya pindah pada musim tertentu ke tempat tertentu sesuai dengan keperluan kelompok itu.

[2] 70% populasi dunia hidup di pesisir pantai.

[3] The Pocket of Sunlight diartikan dengan kantung cahaya matahari, dalam film ini disebut juga Black Gold yang maknanya adalah Energi Fosil seperti batubara, minyak bumi, dan geothermal.

[4] Saya tetap berpegang pada pendapat senior saya tentang tiga faktor penting yang wajib ada dalam sebuah Negara, yaitu Penguasa, Pengusaha, dan Militer. Dengan demikian, langkah Kosta Rika untuk menutup gerbang kemiliterannya adalah sebuah kekeliruan, karena akan memperlemah posisi negara tersebut di mata (militer) internasional.

[5] Kita tidak dapat memvonis bahwa mentari akan terus memberikan energi cahayanya selama Bumi masih ada. Siapa manusia yang tahu?

[6] Dalam kalimat ini juga terdapat kekeliruan. Saya tetap berpegang bahwa manusia hanya dapat berusaha, sementara pihak yang memutuskan hanyalah Al-Khaliq, sang pencipta alam semesta.

2 responses to “HOME: “Save The Earth”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s