Rekayasa Karakter (Islam)

Medio tahun 2009 menjadi momen yang banyak diperingati oleh masyarakat Indonesia-baik umum maupun kelompok dan/atau golongan. Bagi seluruh warga negara Indonesia, pertengahan Agusutus lalu menjadi peringatan HUT RI ke-64. Beberapa hari lalu, akhir bulan Agustus, umat muslim pun dihadapkan pada bulan penuh berkah, bulan Ramadhan. Bagi sekelompok orang, anggota dewan yang terpilih khususnya, sepanjang bulan Agustus hingga awal September menjadi sebuah sejarah hidup mereka dengan agenda pelantikan di berbagai DPRD provinsi maupun kabupaten/kota yang berlangsung secara bergelombang.

Evaluasi dan Persiapan

Adanya tiga momen tersebut, tidak bisa tidak, wajib menjadi momen evaluasi diri bagi setiap muslim di Indonesia, utamanya bagi para anggota dewan terpilih periode 2009-2014 sebelum memulai-atau melanjutkan-rekam jejaknya di kancah politik. Pertama, hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus lalu kudu menjadi evaluasi semangat bernegara. Tuntutan menjadi khidm al-ummah (pelayan umat) merupakan kontribusi bagi bangsa yang harus dipersiapkan dengan matang dan dilaksanakan dengan amanah, karena akan dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat. Sebuah pengkhianatan bagi the founding fathers apabila menyalahgunakan posisi wakil rakyat, selain tentunya ia juga berkhianat kepada Allah dan masyarakat. Sebaiknya para pejabat publik itu membuka terlebih dahulu lembaran-lembaran sejarah bangsa ini, agar mereka tidak tersesat dalam konsep yang salah tentang pemosisian sebuah jabatan bernama anggota dewan. Ia bukanlah tempat mencari nafkah, bukan tempat mencari popularitas, bahkan bukan tempat lumbung uang untuk menutup lubang modal kampanye. Saya teringat ketika Moh. Hatta diasingkan ke tanah Papua, lalu ia ditawari gaji setiap hari dan hidup berkecukupan jika mau bekerja sama dengan penjajah. “Jika saya mau bekerja sama, maka saya sudah bekerja sama sebelum saya diasingkan kesini,” begitulah kira-kira jawabnya. Apakah mereka siap dengan hal ini?

Kedua, bulan Agustus ini juga menjadi pergantian bulan Sya’ban dengan bulan Ramadhan. Meningkatkan kapasitas diri menjadi tradisi di bulan dengan pahala berlipat ganda ini. Ada hikmah lain dibalik begitu dekatnya waktu pelantikan anggota dewan dengan bulan Ramadhan, yakni semakin sempitnya kesempatan untuk melakukan maksiat. Walaupun memang maksiat dilarang pada semua waktu, namun fakta memperlihatkan bahwa mayoritas manusia semakin jauh dari maksiat ketika Ramadhan. Dengan sedikitnya maksiatlah seharusnya orang-orang yang menduduki kursi panas itu mengawali kerjanya. Setidaknya, mereka minimal bisa merealisasikan janji-janji politiknya. Memajukan daerah, masyarakat, negara, atau janji lainnya bukanlah hal yang bisa dijadikan-meminjam istilah Ramlan Nugraha-“komoditas politik” saja. Pun untuk melicinkan jalan menuju kemenangan pada pemilu legislatif lalu, na’udzubillah. Apakah mereka siap dengan hal ini?

Sebuah Rekayasa Karakter

Lebih dari 50% anggota DPR RI dihiasi wajah-wajah baru. Hal ini tidak bisa dijadikan parameter mutlak bahwa tradisi buruk anggota dewan akan hilang, atau setidaknya membaik. Pakar hukum yang juga dosen Universitas Parahyangan Bandung, Prof. Dr. Asep Warlan Yusuf, dalam acara Kajian Politik KAMMI Jawa Barat akhir Agustus ini menyatakan bahwa posisi ini (legislatif-red) adalah posisi yang memiliki peluang sangat banyak untuk melakukan korupsi dibandingkan dengan eksekutif. Hak menentukan anggaran pembelanjaan yang hanya dimiliki oleh legislatif merupakan salah satu alasan yang cukup jelas untuk mendukung argumen tersebut. Selain itu, masih ada peluang lainnya, seperti studi banding-baik ke daerah maupun ke luar negeri, pembuatan undang-undang, serta masih banyak lagi. Parahnya lagi, mereka-dengan tidak melakukan generalisir terhadap seluruh anggota dewan-membenarkan yang lazim, bukannya melazimkan yang benar.

Akar dari permasalahan klasik ini berujung pada akidah dan akhlak personalnya. Panti rehabilitasi akan sulit mengubah budaya karakter buruk ini dalam waktu singkat. Sebuah pembinaan yang berkesinambungan sangat diperlukan sebagai kucuran air saat dahaga dan sebagai penjaga saat lalai. Internalisasi keislaman dibutuhkan oleh setiap muslim sejak usia dini. Pendalaman ini tentunya harus difasilitasi dengan sarana dan prasarana yang baik dan benar. Benar dalam artian tidak menyesatkan dan baik dalam artian profesional. Pada akhirnya, goal dari program yang saya sebut dengan Rekayasa Karakter ini akan melahirkan orang-orang yang digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya:

ألم تركيف ضرب الله مثلاكلمة طيبة كشجرت طيبة اصلها ثبت وفرعها فى السماء ۝ تؤتى اكلهاكلحين بإذن ربهاويضرب الله الأمثال للناس لعلهم يتذكرون ۝

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Ibrahim: 24-25)

Al-Ikhwan Al-Muslimin dalam konsep tarbiyah-nya menetapkan sebanyak sepuluh goal manusia-manusia hasil Rekayasa Karakter mereka. Goal tersebut dikenal dengan nama muwashafat tarbiyah, yaitu:

1. Salimu Al-Akidah (Akidah yang selamat)

2. Shahihu Al-Ibadah (Ibadah yang benar)

3. Matinu Al-Khuluq (Akhlaq yang baik)

4. Qadirun ‘Ala Al-Kasbi (Mampu secara ekonomi)

5. Mutsaqqafu Al-Fikr (Berwawasan luas)

6. Qawiyyu Al-Jismi (Jasad yang kuat)

7. Mujahidun Li Nafsihi (Bersungguh-sungguh terhadap diri sendiri)

8. Munadzhamun Fi Syu’unihi (Teratur dalam urusannya)

9. Haritsun ‘Ala Al-Waqtihi (Teratur dalam waktunya)

10. Nafi’un Li Ghayrihi (Bermanfaat untuk yang lain)

Sepuluh kompetensi ini jelas tidak dapat dicapai dalam waktu singkat. Diperlukan sebuah ketekunan dan kekonsistenan dalam menjalani sebuah Rekayasa Karakter. Dengan tidak memaksakan capaian dan konsep suatu harakah Islam, pada hakikatnya urgensi pembinaan sejak dini harus sudah disadari oleh banyak orang tua. Saya berharap, orang-orang hasil Rekayasa Karakter Islam inilah yang nanti akan mengambil peran dalam mengisi pos-pos publik negara dan daerah. Wallahu’alam.

Bandung, 25 Agustus 2009
Rama Permana
Ketua Departemen Kajian Strategis
KAMMI Komisariat IT Telkom 2009-2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s