Kerancuan Interpretasi Abrahamic Faiths

Siapa yang tidak kenal dengan tesis mengagumkan karya Samuel P. Huntington yang berjudul The Clash of Civilization. Terjemah bebas dari judul tersebut adalah ‘Benturan Peradaban’. Ya, ia mengungkapkan banyak peradaban yang akan-sedang-beradu, diantaranya adalah barat dan Islam. Namun, saya baru mengetahui bahwa ada benturan global lain yang sedang terjadi. Dalam buku Membendung Arus Liberalisme di Indonesia karya Dr. Adian Husaini ada artikel Catatan Akhir Pekan-nya (CAP) yang berjudul ‘Abrahamic Faiths?’.

Dalam buku tersebut dikatakan “Pada 8 November 2007, Republika menurunkan sebuah kolom Azyumardi Azra berjudul “Trialog Peradaban”. Azra menceritakan, bahwa pada 21-24 Oktober 2007, Harvard University menyelenggarakan sebuah konferensi bertema “Children of Abraham: A Trialogue of Civilization”.” (Husaini, 2009: 295)

Azra yang merupakan Direktur Pasca Sarjana UIN Jakarta melanjutkan bahwa yang dimaksud dengan anak-anak Ibrahim adalah Yahudi, Kristen, dan Islam. “Pembicaraan antara ketiga agama (trialog) diharapkan dapat menumbuhkan saling pengertian dan toleransi yang pada gilirannya mendatangkan perdamaian,” lanjutnya.

Singkatnya, Dr. Adian Husaini menyebutkan bahwa semua Nabi, termasuk Nabi Ibrahim, juga membawa ajaran tauhid (sebelum Muhammad SAW). Karena itu, ‘millah Ibrahim’ (sebutan Abrahamic Faiths dalam Al-Quran), dalam pandangan Islam adalah agama tauhid.

Kerancuan interpretasi ini akan lebih jelas jika kita mengkajinya lebih lanjut. Dalam Yahudi dan Kristen sendiri banyak sekte yang kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah semua sekte itu termasuk ke dalam Abrahamic Faiths? Tentu tidak mungkin, karena agama Ibrahim adalah satu, dan yang satu itu adalah agama tauhid.

Dalam Al-Quran sendiri telah disebutkan dengan jelas pemosisian Ibrahim, “Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS. 3: 67).

Telaah Tauhid

Yahudi dan Kristen bersekutu dalam Bibel atau Perjanjian Lama atau Torah, tetapi berbeda secara mendasar dalam soal trinitas. Dalam hal ini, Kristen sudah tereliminasi karena konsep trinitasnya yang keluar dari konsep tauhid yang dibawa oleh Ibrahim. Yahudi dan Islam sama-sama menganut Monoteisme. Perbedaannya, Yahudi masih berselisih paham (dengan internalnya sendiri) tentang siapa Tuhan yang satu itu.

“Oxford Concise Dictionary of World Religions menulis: “Yahweh: The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH’, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy.” Jadi, hingga kini belum jelas siapa nama Tuhan Yahudi.” (Husaini, 2009: 298)

Islam dengan jelas dalam kitab Al-Quran (yang diturunkan kepada Muhammad SAW) menyebutkan bahwa nama Tuhan adalah Allah. Jika ditelisik lagi dalam Al-Quran itu, Ibrahim pun ternyata telah menyebut nama Tuhannya dengan Allah. “…kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…”. (QS. 60: 4)

Pada akhirnya Dr. Adian Husaini menghimbau agar para cendekiawan lebih berhati-hati dalam menggunakan istilah. Dalam kasus ini, istilah Abrahamic Faiths ternyata hanya tepat untuk agama Islam, tidak yang lain. Kesalahan istilah tentunya dapat menimbulkan interpretasi dan multitafsir yang kacau. Inilah yang tidak diharapkan oleh kita, utamanya umat Islam. Wallahu’alam.

Bandung, 7 September 2009
Rama Permana
Ketua Departemen Kajian Strategis
KAMMI Komisariat IT Telkom 2009-2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s