Mempertahankan Semangat Sampai Akhir

Seperti biasa setelah shalat subuh di Masjid Mutiara Hikmah, masjid dekat rumah saya di Cimahi, selama bulan Ramadhan ini selalu diiringi dengan kultum dari masyarakat ataupun mengundang ustadz. Jumat pagi ini, tetangga sebelah saya berkesempatan untuk menyampaikan nasihatnya di depan mimbar. Ia bercerita dengan nuansa akhir Ramadhan. Saya sudah ringkas cerita beliau seperti di bawah ini.

Suatu hari ada seorang kontraktor yang bekerja pada sebuah perusahaan properti, usianya sudah mencapai 50 tahun hingga ia memutuskan untuk pensiun. Kemudian, ia menghadap direktur perusahaan dan menyampaikan maksud kedatangannya untuk mengundurkan diri itu.

Pada dasarnya sang direktur tidak keberatan sedikit pun jika pegawai senior itu mengundurkan diri. Namun, direktur mengajukan sebuah syarat bahwa kontraktor tadi harus mengerjakan satu proyek lagi, proyek terakhirnya di perusahaan.

Dengan terpaksa, kontraktor itu pun menerima syarat yang diajukan oleh sang direktur. Ia diberi waktu satu tahun oleh direktur untuk menyelesaikan proyek bangunan itu. Semangat yang luntur ternyata berdampak buruk pada kinerjanya. Ia tidak lagi bekerja dengan sungguh-sungguh karena dibayangi beban dan perasaan terpaksa. Imbasnya, proyek itu menjadi proyek terburuk sepanjang karirnya sebagai kontraktor.

Delapan bulan kemudian, setelah proyek itu selesai, ia kembali menghadap direktur. “Ini kunci bangunan itu,” ucap kontraktor yang ingin segera pensiun itu. “Tidak!” jawab direktur. “Itu adalah hadiah dari perusahaan untukmu, karena pengabdianmu selama puluhan tahun di perusahaan ini. Silakan ambil rumah itu untuk tempat istirahatmu setelah pensiun.” lanjut sang direktur sembari mengembalikan kunci yang tadi sudah diberikan kepadanya.

Kontraktor tadi terkejut dengan jawaban direkturnya itu. Perasaan gemas, menyesal, dan kesal seketika bercampur menjadi satu. Akhirnya, sesuai kesepakatan antara ia dengan direktur delapan bulan yang lalu, ia pensiun dan menerima hadiah tersebut dengan perasaan yang bercampur baur tadi.

Ramadhan yang tersisa dua atau tiga hari ini hendaknya juga tidak disiakan begitu saja. Bisa jadi, malam nanti adalah Laylatu L-Qadr. Bukan tidak mungkin, seperti yang sudah disampaikan banyak orang, kita tidak bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan. Maka, seharusnya kita tetap mempertahankan-bahkan kalau bisa meningkatkan-semangat sampai akhir Ramadhan. Ingat, Ramadhan belum berakhir hingga gema takbir berkumandang. Wallahu’alam.

Cimahi, 18 September 2009
Rama Permana
Mahasiswa IT Telkom
Fakultas Elektro dan Komunikasi
Teknik Telekomunikasi 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s