Saat Sedekah Menjadi Musibah dan Komoditas Politik

Ahad, 20 September 2009 lalu, hampir seluruh umat muslim merayakan hari idul fitri setelah 29 hari melaksanakan ibadah puasa. Suasana lebaran sepatutnya aman, damai, tenteram, dan sebagainya karena momen tersebut merupakan saat dimana manusia kembali kepada fitrahnya. Seperti biasa media elektronik juga menyajikan informasi seputar mudik. Menurut laporan dari berbagai media elektronik, kota besar seperti Jakarta tampak sangat lengang karena ditinggal para perantaunya. Saya baru sadar bahwa penduduk asli Jakarta sebenarnya sedikit, sangat sedikit.

Open House, Berkah atau Musibah?

Pada hari itu sekitar pukul 14.00 WIB, Presiden SBY menyelenggarakan open house di Istana Negara. Acara tersebut terbuka bagi seluruh masyarakat. Prosesi salam-salaman berjalan tertib walau dihadiri oleh banyak orang. Keesokan harinya, ia menyelenggarakan open house di Cikeas, Bogor.

Ternyata bukan hanya presiden, sejumlah pejabat lain pun sama. Tercatat Megawati, Sri Mulyani, dan Hatta Radjasa juga menyelenggarakan acara tersebut. Beberapa pejabat membagikan materi baik yang ‘mentah’ maupun yang ‘matang’ kepada masyarakat di sekitarnya. Ada hal yang menarik ketika Foke, panggilan akrab Gubernur DKI Jakarta, juga membagi-bagikan bingkisan. Masyarakat berdesakan untuk mengambil bingkisan itu.

Perempuan, orang tua, dan anak kecil-hingga balita-turut merasakan beratnya perjuangan mendapatkan sebuah bingkisan. Hasilnya mudah ditebak, pembagian bingkisan menimbulkan korban (lagi). Ada yang kesulitan bernafas, pingsan, sampai ada yang harus dilarikan ke tempat perawatan. Beruntung, tidak seperti kejadian-kejadian sebelumnya, tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, hal ini tetap merupakan tamparan bagi gubernur yang saat kampanyenya mengelu-elukan slogan ‘serahkan kepada ahlinya’ itu.

Sedekah Menjadi Komoditas Politik

Selain kejadian di atas, ada lagi fakta unik yang terjadi di sebuah kota di Pulau Jawa. Seorang warga membagi-bagikan beras kira-kira seberat 5 kg secara gratis kepada para tetangganya. Uniknya, plastik beras tersebut bertuliskan nama orang yang membagikan itu, plus tulisan ‘Calon Walikota XXX 2010-2015’ dibawahnya.

Ini jelas-jelas merupakan bentuk kampanye terselubung jika yang bersangkutan memang sudah terdaftar sebagai calon walikota setempat. Bahkan, ini bisa juga termasuk ke dalam perbuatan riya’ karena merasa ingin dilihat berbuat kebaikan. Padahal, Allah dengan terang melarang keras sedekah yang disertai perbuatan riya’. Setidaknya hal ini termaktub dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
(Q.S. Al-Baqarah: 264)

“(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.”
(Q.S An-Nisa: 37-38)

Penutup

Untuk itu, kita patut menolak dengan tegas bentuk kecurangan dan kemunafikan ini. Jalan kemenangan politisi sejati bukanlah jalan yang curang. Terlebih, membohongi diri sendiri dengan perbuatan riya’. Sedekah hanya dijadikan komoditas politik untuk meraup suara. Bagaimana seorang muslim dapat memimpin masyarakatnya, jika dalam memimpin dirinya saja ia sudah melakukan keteledoran yang besar. Belum menjadi walikota saja sudah berani menipu, bagaimana setelah menjadi walikota? Ini bukan bentuk su’udzhan, tetapi kewaspadaan agar pemimpin-pemimpin di negeri ini bukanlah orang-orang yang munafik.

Terkait dengan musibah pembagian bingkisan yang terjadi di Jakarta, pihak penyelenggara seharusnya sudah siap terhadap segala kemungkinan yang terjadi, bukan bekerja tidak becus layaknya panitia penyelenggara pemula. Menurut Kapolda Jatim, Irjen. (Pol) Anton Bahrul Alam, penanggung jawab acara bisa dituntut apabila pembagian bingkisan tersebut menimbulkan korban. Jadi, berhati-hatilah jika ingin mengadakan acara serupa, pilihlah event organizer yang profesional. Bahkan, sedekah atau infaq akan jauh lebih baik jika kita menyalurkannya kepada Badan Amil Zakat Infaq dan Shadaqah (BAZIS), karena mereka tentu memiliki prosedur penyaluran yang rapi dan Insya Allah tepat sasaran. Wallahu’alam.

Cimahi, 23 September 2009
Rama Permana
Ketua Departemen Kajian Strategis
KAMMI Komisariat IT Telkom 2009-2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s