Resensi Delapan Mata Air Kecemerlangan

Oleh: Rama Permana*

Buku karya Ust. Anis Matta ini bertipe sama seperti tulisannya yang lain. Kami bisa bandingkan dengan Model Manusia Muslim Abad XXI. Setiap bagiannya tidak pernah lepas dari poin-poin. Beliau juga menggunakan bahasa yang persuasif dan kata-kata yang menggugah pembacanya untuk melakukan telaah lebih dalam terhadap diri sendiri.

Karya setebal 259 halaman berjudul Delapan Mata Air Kecemerlangan ini berisi tentang potensi-potensi kecemerlangan dalam diri setiap manusia yang justru tidak banyak disadari. Potensi kecemerlangan itu terangkum menjadi delapan buah, diantaranya; Konsep Diri, Cahaya Pikiran, Kekuatan Tekad, Keluhuran Sifat, Manajemen Aset Fundamental, Integrasi Sosial, Kontribusi, dan Konsisten. Untuk selanjutnya, masing-masing -meminjam istilah Ust. Anis Matta- ‘mata air’ kecemerlangan akan kami uraikan seperti di bawah ini.

A. Konsep Diri

Pada bagian pertama ini penulis berbicara bagaimana kita memiliki interpretasi terhadap diri sendiri. Tidak hanya itu, seorang manusia juga harus memikirkan interpretasi sosial atas dirinya. Lalu, ia harus mampu menyusun karakter manusia ideal yang dengannya ia komitmen untuk meraihnya.

Seorang manusia, kemudian, harus mampu melakukan sinkronisasi antara ketiga fakta tersebut. Dalam istilah penulis, ia mampu menggabungkan ‘Aku Diri’, ‘Aku Sosial’, dan ‘Aku Ideal’ menjadi satu kesatuan interpretasi yang sama. Hal yang sama disampaikan pula oleh penulis dalam Model Manusia Muslim Abad XXI tentang sebuah keniscayaan yang mau tidak mau seorang manusia harus terlibat di dalamnya, yaitu Afiliasi, Partisipasi, dan Kontribusi. Tiga hal-atau tahap-ini akan dilalui oleh seseorang yang sedang melakukan pengembangan diri.

B. Cahaya Pikiran

Pikiran adalah yang mendasari sebagian besar perbuatan manusia, selain tentunya refleks. Anda adalah apa yang Anda pikirkan tentang diri Anda, begitulah penulis mengatakannya. Kami ingat tentang filosofi judul ‘Setengah Isi Setengah Kosong’. Orang yang berpikiran negatif akan menyebutnya setengah kosong, sementara orang yang berpikiran positif akan menyebutnya setengah isi. Jadi, kita bisa jadi berbeda memandang sesuatu yang sama, tergantung kepada perspektifnya. Penulis juga mengajak pembaca untuk selalu memenuhi lintasan pikiran dengan hal-hal yang bermanfaat. Karena, seorang yang berpikiran kotor sangatlah sulit untuk melakukan perbuatan baik.

C. Kekuatan Tekad

Mata air kecemerlangan selanjutnya yang perlu dimiliki dan dikembangkan adalah tekad. Tekad akan memperkuat niat dan akan selalu menjadi faktor penyemangat di saat futuur. Orang-orang besar yang sudah kita kenal sekarang tidak akan menjadi besar tatkala mereka tidak memiliki tekad yang kuat untuk menjadi orang besar. Kami menilai bahwa kesuksesan seseorang-selain juga karena keputusan Allah swt-tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa besar usaha dan kecerdasannya, namun akan dipengaruhi oleh faktor X. Maka, tekadlah yang menjadi faktor X tersebut.

D. Keluhuran Sifat

Sifat adalah sesuatu yang dapat secara langsung mempengaruhi interpretasi orang lain atas diri kita. Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda, ‘Aku tidak diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlaq.’ Seseorang yang sungguh-sungguh meneladani Rasulullah saw, tidak bisa tidak, akan memiliki akhlaq yang baik. Kami memandang bahwa sifat adalah faktor penentu hubungan sosial setiap orang. Misalnya, orang lain yang tahu bahwa kita cerdas dalam satu hal bisa jadi akan tetap tidak respek kepada kita karena sifat kita. Muslim yang baik jelas adalah muslim yang syumul, intelektual maupun akhlaq, selain tentu spiritual.

E. Manajemen Aset Fundamental

Penulis menyebutkan dua buah aset fundamental yang telah Allah swt berikan kepada setiap manusia, kesehatan dan kesempatan. Soal sehat adalah soal manajemen, karena setiap orang dikaruniai dengan sama. Kesehatan bukanlah sesuatu yang tidak dapat kita atur, kecuali bila memang Allah swt memberikan keterbatasan lebih pada diri kita. Nikmat inilah yang perlu dimanajemen dengan pola hidup yang baik. Itulah cara mensyukuri nikmat sehat. Ada ungkapan, ‘Kesehatan adalah mahkota yang hanya dapat terlihat oleh orang sakit.’

Aset berikutnya adalah waktu atau kesempatan atau keluangan agenda atau ketidaksibukan. Persoalan waktu juga merupakan masalah manajemen, mengapa? Setiap orang memiliki waktu yang sama, 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu. Namun, setiap orang memiliki kualitas waktu yang berbeda. Maka, penulis mengajak kepada kita semua untuk menentukan satu amal dalam satu unit waktu. Inilah yang akan kita pertanggungjawabkan atas waktu yang telah diberikan untuk kita. Terlebih, kita tidak tahu batas hidup kita, hal tersebut haruslah memicu kita untuk selalu menjadikan waktu-waktu kita adalah waktu yang berkualitas.

F. Integrasi Sosial

Seorang manusia secara alami harus melibatkan dirinya ke dalam kehidupan sosial. Ia harus memiliki hubungan yang baik dengan sesamanya. Dasar pemikiran dan contohnya sudah jelas. Perintah amar ma’ruf wa nahyi munkar dalam Q.S. Ali-Imran ayat 103 bukanlah perintah kepada satu orang, tetapi perintah kepada suatu kaum. Kita juga mesti sadar bahwa para Rasul tidak mungkin memiliki pengikut sebanyak itu jika tidak menyatukan diri ke dalam kehidupan sosial. Inilah yang penulis maksud dengan Integrasi Sosial.

G. Kontribusi

Inilah muara dari seluruh mata air sebelumnya. Seorang yang memiliki konsep diri yang jelas, memiliki pikiran jernih dan lurus, memiliki tekad kuat, memiliki akhlaq baik, memiliki kemampuan manajemen kesehatan dan waktu yang bagus, mampu berintegrasi sosial, akan menjadi sia-sia tanpa diejawantahkan dengan sebuah perbuatan, atau penulis menyebutnya dengan kontribusi.

H. Konsisten

Konsisten pernah membuat rambut Rasulullah saw beruban. Artinya, manusia seluhur beliau pun sulit untuk istiqamah, walaupun tetap bisa. Kunci dari keseluruhan amal kita adalah kekontinuan. Bahwasannya ‘beramal secara kontinu maupun sedikit’, bukan ditekankan pada sedikitnya amal. Titik tekannya justru ada pada amal yang berkesinambungan, tidak terputus. Untuk itu pula, konsisten diletakkan pada mata air kecemerlangan yang terakhir. Semoga kita dapat mengambil hikmah. Wallahu a’lam.

Bandung, 16 Desember 2009

*) Mahasiswa Fakultas Elektro dan Komunikasi, Institut Teknologi Telkom, angkatan 2008 dan Ketua Departemen Kajian Strategis KAMMI Komisariat IT Telkom 2009/2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s