Reformulasi Fokus Gerakan di Tengah Perjalanan

Reformulasi Fokus Gerakan di Tengah Perjalanan
Meraih Profesionalitas Keilmuan dalam Menyongsong Kemenangan

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”
Soekarno

Sekilas Introspeksi

Ada kalanya ketika kita sedang berada dalam keramaian suasana dan agenda, serta ditengah amanah yang kian bertambah, rasa jenuh transit di dalam jiwa kita. Ada yang sanggup melepaskannya dalam waktu yang sangat singkat, ada yang begitu sulit melepaskannya, dan bahkan ada pula yang tergerus arus kefuturan hingga tak kembali lagi ke jalur lamanya. Alur seperti ini juga mulai merembet ke dalam lingkup yang lebih luas, yakni kefuturan gerakan, na’udzubillah. Gerakan semacam ini mengaku berasas Islam atau memiliki nama ‘Islam’–dan islami–tetapi justru tidak menegakkan Islam dalam tubuh mereka sendiri, tidak mengejawantahkan Islam sebagaimana mestinya. Itulah gerakan simbolis kosong yang hanya menambah keributan pasar.
Dua belas tahun perjalanan gerakan ini perlu dipahami dengan seksama agar kita, sebagai generasi penerus, tidak sebodoh keledai yang mengulangi kesalahan dua kali atau bahkan lebih banyak. Generasi penerus juga memiliki tanggung jawab yang jauh dari mudah, mengingat luar biasanya para pendahulu memposisikan gerakan ini di tengah turbulensi politik nasional. ‘Tsunami politik’ di akhir milenium kedua memaksa pemuda-pemuda masjid untuk berlari menuju gedung dewan. Keadaan ini juga mendesakkan potensi-potensi para pemuda kala itu untuk dikeluarkan sampai batas maksimal. Singkat kata, gerakan ini mampu established dengan bargaining position yang sangat kuat di usianya yang masih berbilang bulan.

Kita Siap Menjadi Pemenang!

Berbeda dengan kebanyakan gerakan mahasiswa yang juga bermunculan di tahun itu, gerakan ini menerjang persepsi bahwa aksi mahasiswa hanyalah aksi emosional tanpa konsep. Contoh usahanya saat itu adalah dengan melibatkan tokoh intelektual reformasi, Amien Rais, dalam perjuangan menuntut perubahan. Mahfudz Sidiq mengutip buku ‘Gerakan Perlawanan dari Masjid Kampus’ karya Andi Rahmat dan M. Najib untuk menceritakannya.

“Saat itulah KAMMI melihat sosok Amien Rais dengan track record-nya sebagai figur yang paling layak untuk menjadi lokomotif reformasi. Kemudian Fahri Hamzah, Ketua Umum KAMMI, mendatangi Amien Rais dan berdiskusi seputar perjuangan reformasi dan meminta Amien Rais berjuang bersama-sama KAMMI. Menanggapi permintaan itu, Amien Rais hanya mengatakan: “Jika tuntutan KAMMI kurang dari menurunkan Soeharto, lebih baik tidak usah mengajak saya.” Lalu Fahri Hamzah memberikan kliping aksi-aksi KAMMI di berbagai daerah sepanjang bulan April 1998, dengan berbagai pandangan dan tuntutannya. Setelah berdiskusi panjang, akhirnya Amien Rais menyatakan kesiapan dan kesediaannya bergerak bersama KAMMI memperjuangkan reformasi.” (Sidiq, 2003: 130)

Dari cerita tersebut, jelaslah bahwa gerakan ini sudah menjadi gerakan intelektual bahkan sebelum filosofi gerakan tersebut (intelektual profetik) tertuang dalam hitam di atas putih. Kini, percaturan panas di ranah politik tidak sepanas dahulu. Bisa jadi gerakan-gerakan neo-orba sudah tahu bagaimana cara agar hangatnya atmosfer politik tidak muncul ke permukaan (media, red.). Agar tidak terjebak dalam mencari-cari kesalahan politik dan bukan pula dengan maksud untuk berlepas diri dari segala realitas politik bangsa ini, agaknya kita perlu mereformulasi proyeksi pribadi-dan gerakan-untuk masa depan.
Dalam masa yang panas itu, seluruh kader memang dimobilisasi-dan memang harus bergerak-menuju pusat kebijakan untuk menekan rezim yang sudah di luar batas. Namun, tampaknya kini nalar gerakan kita sedikit bertambah bebannya. Pada fase rekonstruksi ini, kita dituntut memiliki kompetensi yang akan mendukung terwujudnya Indonesia madani. Jika kita memang seorang mahasiswa teknik, maka teruslah menuntut ilmu hingga tingkatan mahasiswa teknik yang tertinggi, dengan gelar doktor misalnya (Amiin). Bila keadaan memang tidak memungkinkan, maka kita bisa mengambil jalur lain seperti menjadi wirausahawan atau membangun komunitas-komunitas masyarakat yang merangsang mereka untuk produktif.
Mengapa tidak bercita-cita menjadi politisi? Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, dalam sebuah seminar di Bandung hari Ahad (9/5) menyampaikan bahwa posisi politisi sangatlah sedikit bila dibandingkan dengan posisi-posisi profesional ataupun wirausahawan. Pun menjadi pejabat bukanlah sesuatu yang diminta, melainkan sebuah amanah.
Pasca fase rekonstruksi, kita akan berhadapan dengan fase leaderisasi yang menuntut kita untuk dapat berbuat lebih banyak lagi. Adalah sebuah kesalahan yang teramat fatal jika kita sudah duduk pada posisi nomor satu tetapi kita tidak bisa apa-apa karena tidak punya apa-apa. Harapannya, tidak kecanggungan ketika kita menjadi pelanjut estafet kepemimpinan bangsa ini. Dengan segudang kader dilengkapi kompetensi yang mapan, maka wacana kita sebagai anasiru taghyir bukan omong kosong. Kita siap menjadi pemenang!
Akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan bahwa tren gerakan ini, tidak bisa tidak, harus diarahkan kepada kompetensi kadernya. Dalam praktiknya, kita tidak bisa meletakkan wawasan kepakaran itu sebagai materi tunggal. Dasar-dasar keislaman seperti ushul tsalatsah wajib diberikan untuk menopang keluruhan intelektualitas seorang kader.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Al-Hasyr: 18

Mempertegas Format

Sebelum berbicara dalam ranah kerja dan teknis, kita tarik dahulu ruang berpikir kita kepada ranah konsep dan filosofis. Kemudian secara berurut akan kita tentukan format gerakan untuk wadah ini. Pertama, wadah ini merupakan kumpulan pribadi yang memiliki tekad untuk berjihad. Pribadi-pribadi tersebut adalah pemuda yang senantiasa progresif, optimis, dan semangat dalam mengejar cita-citanya, tentunya dengan batasan syari’at. Sebagaimana telah ditegaskan oleh Sayyid Quthb dalam ma’alim fi ath-thariq bahwa ciri jihad adalah ofensif, tidak defensif. Beliau mengatakan, “Seandainya gerakan jihad Islam itu terpaksa dinamakan sebagai ‘gerakan mempertahankan diri’ maka kita perlu mengubah pengertian perkataan ‘bertahan’ atau ‘pertahanan’.” (Quthb, _: 55)
Kedua, wadah ini tidak mengambil jalan behind the scene melainkan maju dengan satu muka. Gerakan bawah tanah pernah sukses dilakukan oleh Yahudi pada awal abad XX dengan infiltrasi pemikiran sekular kepada Gerakan Turki Muda. Adian Husaini menyebutnya dengan istilah ‘smart rebellion’. Beliau melanjutkan, “Smart rebellion tidak mengandalkan pada kekuatan senjata dan fisik, tetapi lebih mengandalkan gerakan bawah tanah alias clandestine.” (Husaini, 2005: 70) Akhirnya, sistem kekhilafahan Islam pun dapat dihancurkan berkeping-keping sebanyak negara-negara arab yang ada sekarang. Bahkan, ideologi Turki–negara kota kekhilafahan Turki Utsmani–berputar menjadi sekular hingga adzan pun diperdengarkan dengan bahasa Turki! Artinya, butuh lebih dari sekedar semangat untuk melakukan underground movement, yaitu kesabaran dan kejeniusan. Selain itu, wajah gerakan ini pun sudah banyak dikenal. Maka, kita tidak perlu lagi meredup-redupkan simbol gerakan ini (sirriyah) sebagaimana kita juga jangan terlalu mengagung-agungkannya (‘ashabiyah).
Ketiga, wadah ini regeneratif dan ekspansif. Tiga tingkatan kaderisasi (Daurah Marhalah) gerakan ini sudah di-setting sedemikian rupa sehingga seorang kader dapat berpikir holistik. Doktrinasi pada level pertama, budaya mikir pada level kedua, dan berpikir mendunia pada level ketiga menegaskan bahwa gerakan ini tidak main-main dalam merekayasa karakter pemuda Islam. Regenerasi yang dimaksud juga regenerasi yang merangsang kadernya untuk beramal sesuai kompetensinya, bukan hanya menyerap ilmu tanpa amal.
Adapun yang dimaksud dengan ekspansi gerakan ini adalah seperti yang diwacanakan oleh Rijalul Imam dalam tulisannya yang berjudul ‘Meretas Politik Peradaban’ dalam Capita Selecta KAMMI. Fase yang di-patron-kan menjadi fase akhir gerakan ini adalah fase internasionalisasi.

“Jika banyak negara merancang visi 2020, KAMMI lebih awal di tahun 2019 sudah menabuh genderang global partnership dari pada negara lainnya yang menghendaki pasar bebas sebebas-bebasnya dengan meyakini tesis pemenang dunia global adalah kapitalisme liberal.” (Imam, 2010: 191)

Bahwa untuk menjadi ustadziyatu al-alam, Indonesia-KAMMI bahkan-tidak bisa sendiri. Kita harus mendorong seluruh negeri Islam untuk segera melakukan persiapan multi aspek menyongsong kemenangan peradaban.

Implementasi

Medio tahun 2010, seluruh komisariat dalam naungan KAMMI Daerah Bandung telah dan akan melaksanakan Musyawarah Komisariat (Muskom). Semangat yang masih segar mengisi komponen-komponen penggerak di masing-masing komisariat. Sebelum terlampau tersesat dengan kejenuhan gerakan seperti sebelumnya, maka sebenarnya kita perlu mengimplementasikan wacana baru dalam gerakan komisariat. Kita tidak akan pernah tahu hasilnya jika belum mencoba. Setiap komisariat, siap tidak siap, harus memberikan porsi mayoritas kepada aspek profesionalitas atau kepakaran. Aspek tersebut tentu berbeda antara komisariat satu dan lainnya, mengingat konsentrasi bidang yang digeluti setiap kampus juga berbeda. Misalnya, Komisariat Institut Teknologi Telkom dengan ciri kampus Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) harus banyak mengambil peran dalam pembangunan dan penyikapan perkembangan teknologi di Indonesia dan dunia, baik dari sisi riset maupun regulasi. Semoga eksperimentasi ini bisa diikuti oleh seluruh komisariat yang ada di Bandung Raya sekaligus menjadi percontohan bagi komisariat-komisariat di daerah lain. Allahu a’lam bi shawab.

Bandung, 12 Mei 2010
Rama Permana

Pustaka

Husaini, Adian. 2005. Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal. (Jakarta: Gema Insani Press).
Imam, Rijalul, dkk. 2010. Capita Selecta KAMMI: Membumikan Ideologi Menginspirasi Indonesia. (Bandung: Muda Cendekia).
Quthb, Sayyid. _. Ma’alim Fi Ath-Thariq: Petunjuk Jalan yang Menggetarkan Iman. (_: _).
Sidiq, Mahfudz. 2003. KAMMI dan Pergulatan Reformasi: Kiprah Politik Aktivis Dakwah Kampus dalam Perjuangan Demokratisasi di Tengah Gelombang Krisis Nasional Multidimensi. (Solo: Era Intermedia).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s