Distorsi Sejarah Islam di Indonesia (Bag. 1)

Buku Api Sejarah

Selasa (1/6) lalu, Indonesia memperingati hari lahirnya Pancasila, meski media tidak terlalu masif memberitakannya karena tragedi kemanusiaan Mavi Marmara. Pancasila yang disebut sebagai dasar negara Indonesia lebih sering diidentikkan dengan tokoh nasionalis macam Ir. Soekarno. Sepintas, peran ulama dirasa sangat minim, bahkan mungkin bisa dianggap nihil jika M. Natsir tidak pernah menjadi Perdana Menteri Indonesia. Padahal, peran ulama sangatlah besar dalam berbagai aspek yang dimiliki Indonesia saat ini. Tidak hanya menjelang kemerdekaan, namun juga sejak jauh-jauh abad sebelum itu.

Dalam buku sejarah konvensional disebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia mulai abad XIII. Hal tersebut dibantah oleh Ahmad Mansur Suryanegara, sejarawan yang sedang naik daun dengan karyanya Api Sejarah, yang mengutip R.K.H. Abdullah bin Nuh bahwa Islam masuk ke Indonesia sudah sejak abad VII melalui hubungan niaga dengan jazirah arab. Sebuah konspirasi yang disebut Suryanegara sebagai ‘distorsi sejarah’ oleh Barat. Perusakan sejarah tersebut memang cukup berhasil, terbukti dengan mindernya kaum muslimin di Indonesia terhadap agamanya sendiri. Banyak fakta yang disebutkan oleh Suryanegara tentang Islam dan Indonesia di dalam Api Sejarah.

“Nama Jayakarta diangkat dari Al-Quran Surah al-Fath [48]: 1, Inna Fatahna laka Fathan Mubina. Makna Fathan Mubina adalah Kemenangan Paripurna atau Jayakarta. Di kemudian hari lebih dikenal dengan sebutan Jakarta.” (Suryanegara, 2009: viii)

Niaga di pasar yang dikuasai oleh kaum muslimin-sebelum dipaksa menyingkir oleh penjajah Belanda-juga memberikan efek bagi bahasa. Bahasa Melayu Pasar sebagai bahasa komunikasi niaga dan dakwah akhirnya dipakai sebagai bahasa dalam pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Suryanegara menyatakan, “…satu-satunya bangsa terjajah di Asia Tenggara, Proklamasinya dengan bahasanya sendiri, bukan dengan bahasa penjajah, hanyalah bangsa Indonesia.” (2009: xii)

Kutipan-kutipan tersebut hanya sebagian kecil dari apa yang ditulis Suryanegara dalam Sekapur Sirih di bukunya. Sebagai seorang muslim, selayaknya kita bangga terhadap agama kita sendiri yang pembesar-pembesarnya telah banyak berkontribusi dalam sejarah nasional. Peran ulama tersebut juga mendapat konfirmasi dari Edward Douwes Dekker. Dalam mengakhiri bagian ini, Suryanegara melanjutkan, “Oleh karena itu, tepatlah kesimpulan E. F. E. Douwes Dekker Danoedirdjo Setiaboedhi dari Indische Partij: djika tidak karena sikap dan semangat perdjuangan para Ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan.” (2009: xv)

Rama Permana

Bandung, 8 Juni 2010

Sumber:

Suryanegara, Ahmad Mansur. 2009. API SEJARAH: Buku yang akan Mengubah Drastis Pandangan Anda tentang Sejarah Indonesia. (Bandung: Salamadani Pustaka Semesta).

One response to “Distorsi Sejarah Islam di Indonesia (Bag. 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s