Menyerah, Stigma, dan Amal

Beberapa hari ini saya menerima banyak pesan singkat yang berisi tentang pernyataan-pernyataan futur, putus asa, atau semacamnya, yang kemudian menjadi pemantik untuk menulis sekedar pengingat-kata yang dihaluskan dari ‘peringatan’-bagi kita semua.

Pertama kali berkenalan dengan jalan ini, saya merasa sangat bersyukur karena Allah menakdirkan hadirnya potongan fragmen yang begitu indah dalam sebuah perjalanan hidup di dunia. Anda pun-mungkin-sama, kita diajarkan memandang dunia dengan perspektif yang sangat global, perspektif fitrah manusia.

Tanpa disadari, ternyata banyak kesuksesan kita yang sedikit banyak dipengaruhi karena keberadaan kita di jalan dakwah ini, tentunya dengan tanpa menafikan kekuasaan Allah dalam menentukan kesuksesan. Pengaruh faktor inilah yang harus selalu dipatrikan dalam ingatan kita.

Adakalanya kita perlu menenangkan diri dari keributan dunia dalam kesendirian, mengingat kembali siapa yang telah menjadi pemicu kita bergabung dengan jalan ini. Ia mungkin tak butuh tanda, atau bahkan sekedar ucapan, terima kasih. Namun, kekonsistenan kita dalam berlari di jalan ini insya Allah sudah membuatnya tersenyum bahagia.

Kini, tanda tanya besar berada di depan mata kita masing-masing, seberapa besar kontribusi yang sudah diberikan untuk dakwah ini? Seberapa serius kita mengemban amanah yang telah diberikan oleh Allah? Tanda tanya itu berujung pada pertanyaan, laikkah kita disebut sebagai kader dakwah? Ataukah selama ini label tersebut hanya baju yang menutupi lumpur hitam lagi bau!

Jika dicerminkan, hati kita sendiri pun bisa jadi sudah muak dengan kebohongan kita terhadap diri sendiri. Alasan yang selalu dibuat-buat ketika amanah itu datang bertubi-tubi hanya menjadi sampah yang akan mengotori muka kita sendiri. Padahal, aral yang kita dapatkan tidak sebanding dengan saudara-saudara kita yang berada di Gaza, Tepi Barat, Uighur, dan Patani misalnya.

Lalu, apakah menyerah adalah sebuah pilihan seorang muslim? Pernahkah kita membayangkan apa jadinya jika Rasulullah saw menyerah dalam berdakwah, akankah kita menikmati jalan yang lurus ini? Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia yang dikeluarkan oleh Depdiknas disebutkan bahwa sinonim dari ‘menyerah’ salah satunya adalah ‘tersisih’ (2008: 122), kemudian ‘tewas’ (2008: 30), ada lagi ‘putus akal’ (2008: 450).

Jika kita elaborasi sedikit, siapa yang ingin tersisih dari fastabiqu ‘l-khayrat? Dikatakan tewas pun belum, bahkan saya baru milad ke-19 hari ini (^_^). Putus akal? Na’udzubillah, insya Allah saya merasa saya masih normal. Bagaimana dengan Anda? Jika memang dibutuhkan, carilah aktifitas sementara yang bisa mengembalikan kekuatan iman kita. Bukan mundur secara paripurna dari jalan ini!

Stigma yang diberikan orang lain pada kita mestinya tidak mempengaruhi kinerja kita dalam ber-‘amal shalih. Apakah kita hanya ingin termasuk ke dalam orang-orang yang porsi diskusinya lebih banyak dari beramal? Apakah orang yang banyak bacot di situs jejaring sosial juga dijamin beramal? Hanya menjadi pengamat dan komentator bukanlah pilihan terbaik, menjadi penulis pun tidak, hatta banyak ilmu pun masih belum menjamin.

Hal-hal yang belum diketahui tentang jalan ini akan segera didapatkan sebanding dengan belajar, berdiskusi, dan banyak ber-‘amal shalih. Jelasnya, dakwah ini akan tetap aktif dengan atau tanpa kita. Perputaran dakwah ini tidak akan menunggu kita mengetahui banyak hal terlebih dahulu. Kecepatannya pun tinggi, sehingga tidak sedikit yang terpelanting keluar jalur. Tinggallah kita memilih, apakah hanya ingin diam dan mati saja, atau menceburkan diri menyambut tantangan dengan semangat dan membuat Allah semakin cinta pada diri kita, insya Allah.

Cimahi, 1 Juli 2010
Rama Permana

5 responses to “Menyerah, Stigma, dan Amal

  1. Kadang-kadang orang menyamakan menyerah dalam dakwah, dengan menyerah dalam mengemban suatu “amanah dakwah”. Padahal menurut menurut pengamatanku, itu jauh berbeda definisinya.

    However, nice posting.🙂

    • karena kebanyakan kasus yg sy lihat menyerah dari amanah dakwah = menyerah dari dakwah, sebaliknya yg tidak seperti itu baru satu orang yang sy tahu…cmiiw

  2. Yah, berarti adanya 1 orang itu sudah cukup untuk mematahkan premis kan? Kaya di pelajaran logika matematika bab kalkulus predikat. Kalo disitu Istilahnya negasi kalimat berkuantor. *Kuliahnya anak IF..😛 *

  3. hm….,
    spakat dengan mbak nina.
    menyerah dari amanah dakwah tidak sama dngan menyerah dari dakwah.
    emang pngertian dakwah itu apa sie??

    setau ina, dakwah itu kan mnyeru kpada kebaikan kan,,,,
    belum tentu, semisal, ina menyerah dari amanah di satu organisasi disbut ina menyerah dakwah. kan gag ada yang tau, smisal ternyata ina ngajakin temen dalam kebaikan…

    ya bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s