Mengembalikan Energi Gerakan Mahasiswa

Wajah gerakan mahasiswa kini mulai berubah. Masyarakat, bahkan mahasiswa sendiri, mengeluhkan keberadaannya. Aksi yang tidak tertib dan penunggangan kepentingan secara radikal oleh pihak-pihak tertentu kepada sebagian gerakan mahasiswa mencoreng muka para aktifis. Masyarakat yang tidak tahu-dan tidak mau tahu-polaritas gerakan mahasiswa jelas akan melakukan generalisir terhadap apa yang mereka lihat di media. People Power Movement yang sebelumnya sangat efektif dalam menyentil para wakil rakyat tidak lagi berpengaruh. Puluhan demonstrasi yang dilancarkan seakan sudah menjadi tontonan biasa bagi kita, tidak ada yang spesial.

Di sisi lain, para demonstran juga sama loyonya. Demo hanya dijadikan aktifitas pengisi waktu luang, atau refreshing karena penat belajar di kelas. Tentunya akademisi sederajat mahasiswa akan malu jika sekedar ikut-ikutan demo tanpa tahu substansi permasalahannya. Dan kini itu terjadi, salah satunya seperti yang pernah diberitakan pada demonstrasi Hari Anti Korupsi di Jakarta. Menyedihkan, mahasiswa pun tidak lagi lapar akan konsumsi politik. Hanya belajar, belajar, dan belajar layaknya anak sekolah. Ironis, karena hingga satu dekade yang lalu para aktifis berani mengorbankan ujiannya-bukan sekedar kuliah-untuk mengurusi gerakan. Meski saya juga tidak sepakat jika pada akhirnya seorang mahasiswa harus dropped out dari kampus akibat aktifitas di luar akademik, namun mahasiswa sekarang memang sudah terlampau loyo.

Apa yang terjadi di dalam gerakan mahasiswa sendiri pun sama. Para akademisi yang bergabung di dalamnya tidak lagi serius menempa diri melejitkan potensi-potensi yang dirangsang oleh gerakan. Hadir rapat, demonstrasi, selesai, tidak lebih. Jika sekarang kita masih bisa menikmati duduk di sebuah gerakan mahasiswa, maka itu tidak lain salah satu faktornya adalah akibat perjuangan kakak-kakak kita untuk membuat gerakan tersebut sanggup bertahan hingga tahun ini. Selanjutnya, apakah gerakan tersebut akan sanggup bertahan untuk sepuluh-dua puluh tahun ke depan, terserah kepada pemain-pemainnya sekarang.

Dalam film Soe Hok Gie kita diperlihatkan bahwa kajian terhadap masalah-masalah bangsa-saat itu transisi orde lama ke orde baru-tidaklah sebentar, apalagi instan. Kajian yang menghasilkan wacana murni dari gerakan mahasiswa. Wacana yang berenergi, bukan sekedar ‘suruhan’, sehingga para pemainnya pun merasakan ruh demonstrasinya. Ketika transisi orde baru ke reformasi pun sama, gerakan mahasiswa memiliki satu wacana, satu musuh bersama, sehingga pada akhirnya people power mampu melengserkan rezim.

Siklus Politik Indonesia

Sekilas ada pola yang sama dalam perjalanan politik Indonesia. Rezim, aksi mahasiswa, rezim, aksi mahasiswa, begitu seterusnya. Kini siklus tersebut sudah berputar tiga kali, parameternya adalah seorang presiden yang mampu berkuasa lebih dari satu periode. Maka jika dirunut akan menjadi Soekarno, gerakan ’66, Soeharto, gerakan ’98, Susilo.

Jika kemampuan analitis mahasiswa saja semakin lesu, maka jangan berharap sepuluh-dua puluh tahun lagi Indonesia mempunyai pengganti pemimpin-pemimpin Indonesia. Iron Stock, Agent of Change, dan istilah-istilah lain yang menjadi doktrin mahasiswa nampaknya sulit masuk ke otak pemuda zaman sekarang. Hedonisme yang semakin tinggi sebanding dengan meningkatnya apatisme terhadap masalah negara. Padahal, Hasan Al-Banna mengatakan bahwa ciri dari pemuda adalah memiliki empat potensi sekaligus, yakni iman, ikhlas, semangat, dan kemauan yang kuat.

Theodore Herzl

Mohon maaf, jika saya harus mengambil contoh dari Theodore Herzl yang memiliki tekad kuat mendirikan tanah air sendiri bagi kaum Yahudi pada tahun 1947. Dengan usahanya membangun kerangka berpikir Yahudi, akhirnya terbentuklah Israel hanya setahun meleset dari tekadnya. Salah satu ucapannya yang terkenal adalah, “if you will it, there is no dream!” Bagaimana dengan kita? Dengan prinsip dan metode yang sudah terbukti sukses, kita bisa lebih sukses dari Herzl cs. Maka, bagi Anda yang mengaku aktifis gerakan mahasiswa, mari bangun kembali kajian terhadap berbagai permasalahan bangsa, moral, serta rancang bangun Indonesia dua hingga empat dekade ke depan. Sebab, pada titik waktu tersebutlah kita akan berperan, jika ingin mengejar takdir menjadi aktor utama konstelasi politik Indonesia. Selamat mencoba!

Rama Permana

Cimahi, 2 Juli 2010

4 responses to “Mengembalikan Energi Gerakan Mahasiswa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s