Proyek Triple Play Telkom Masih Bermasalah

Rabu (7/7) lalu, saya bersama kawan Geladi meninjau perangkat baru Telkom, MSAN (Multi Service Access Node), di Nanjung (Site Operation Cimahi). MSAN adalah perangkat sebangsa ONU (Optical Network Unit) atau OAN (Optical Access Network) yang merupakan titik konversi kabel untuk jaringan hybrid. Karena cukup penasaran dengan perangkat itu, saya langsung googling sesampainya di rumah.

MSAN ternyata adalah inovasi dari Divisi Akses PT. Telkom untuk lebih mendayagunakan jaringan akses tembaganya. Seperti kawan-kawan IT ketahui, bahwa jaringan akses tembaga sudah sangat tertinggal jauh dari jaringan nirkabel yang berkembang pesat, apalagi jika dibandingkan dengan jaringan IP yang sebentar lagi akan booming.

Dengan MSAN, yang menggunakan kabel fiber optic (FO) sebagai kabel primer, pelanggan dapat menerima layanan triple play, yaitu fixed phone, ADSL (Asymetric Digital Subscriber Line) atau lebih dikenal dengan Speedy, dan IP-TV. Terintegrasinya ketiga layanan tersebut diharapkan dapat memperpanjang nafas pendayagunaan jaringan akses tembaga.

Beberapa hari kemudian, petugas yang berwenang untuk MSAN yang saya kunjungi itu mengeluh. Sebab, fixed phone yang melalui MSAN tidak dapat menerima telepon dari operator di luar Telkom Group. “Mungkin ada permainan untuk operator lain,” sanggah yang lain. Pernyataan tersebut dibantah oleh seorang organik Telkom setempat, “Telkom bodoh kalau menolak panggilan dari operator di luar Telkom Group, karena operator-operator itulah yang justru memberikan keuntungan terhadap Telkom melalui biaya interkoneksi!”

Setelah mengecek Peraturan Pemerintah No. 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi, ternyata saya menemukan pasal yang terkait dengannya. Bahwa dalam Pasal 21 ayat (1) disebutkan, “Penyelenggara jaringan telekomunikasi dilarang melakukan diskriminasi dalam penyediaan interkoneksi.”

Pernyataan tersebut dengan tegas membantah bahwa ada permainan dari manajemen. Selain itu, untuk diketahui, biaya interkoneksi yang diterima oleh Telkom dari operator lain memang cukup besar. Sebut saja Indosat yang setiap tahunnya harus menyetor 8 M dan Telkomsel yang mencapai 120 M. Ini merupakan keuntungan turun-temurun Telkom karena memiliki jaringan yang paling luas di Indonesia yang sudah dibangun berpuluh-puluh tahun sebelumnya.

Adapun tentang panggilan dari operator di luar Telkom Group yang belum dapat diterima oleh para pelanggan fixed phone via MSAN ditanggapi organik dengan alasan perangkat yang masih baru dan perlu waktu untuk mempelajarinya lebih dalam. So, kalau belum siap, kenapa MSAN harus di-launching? Toh, layanan IP-TV pun belum siap dipasarkan.

Cimahi, 20 Juli 2010
Rama Permana
Mahasiswa IT Telkom
Fak. Elektro dan Komunikasi
Teknik Telekomunikasi 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s