Kita Harus (Masih) Banyak Belajar

Islam adalah din yang syumul atau lengkap, ianya merupakan ideologi yang siap menjadi fundamen dasar bagi setiap aspek kehidupan di dunia ini. Dalam tataran teoritis, islam sudah final. Namun, dalam tataran praktis, umat ini masih harus berusaha keras untuk merealisasikannya lagi.

Nilai-nilai islam mengatur tentang politik dan ekonomi. Tatanan politik dan ekonomi yang kini berjalan di dunia telah diatur sedemikian rupa oleh Zionis dengan sangat rapi sekali. Saya kira belum ada pergerakan islam yang mampu mengorganisir dunia sekelas freemason. Termasuk infiltrasi nilai yang mereka lakukan terhadap dua agama samawi, Yahudi dan Nasrani, sehingga mengaburkan apa yang sebenarnya menjadi inti dari kedua agama tersebut. Sedikit demi sedikit, mereka juga menginfiltrasi islam melalui gerakan-gerakan sepilis.

Rumah Sakit St. Borromeus

Dalam karya nyata, umat ini pun –konteks Indonesia– masih kalah. Barangkali Anda heran mengapa saya memilih untuk dirawat di Rumah Sakit Santo (RS. St.) Borromeus beberapa hari yang lalu, daripada di rumah sakit islam atau setidaknya rumah sakit umum, RS. Hasan Sadikin, RS. Muhammadiyah, atau RS. Al-Islam misalnya.

Pertama, ada jaminan kesehatan penuh bagi keluarga pegawai PT. Telkom. Sistemnya seperti koperasi yang memotong gaji pegawai dan subsidi silang bagi keluarga pegawai yang sakit. Dengannya, diharapkan para karyawan dapat bekerja dengan tenang dan tidak perlu memikirkan biaya kesehatan.

Kedua, dengan berat hati saya katakan rumah sakit di Bandung yang bisa disebut berkelas dan berpelayanan adalah RS. Imanuel dan RS. St. Borromeus. Keduanya merupakan rumah sakit yang berada di bawah naungan perhimpunan gerejanya. Pelayanan disana sangat memuaskan, dimana seorang pasien benar-benar dijadikan pasien.

Kalau menelaah lebih jauh, misi gereja juga sangat kental disana. Pasien yang beragama Katholik atau Protestan didatangi oleh pastur untuk mendoakan mereka setiap hari. Pun juga pelayanan misa dan lainnya yang secara khusus mendapat layanan antar ke kapel. Sehingga, pasien dapat dikembalikan kepada nilai-nilai spiritual. Momen dan sarana yang tepat, seperti memberi nasi saat perut orang keroncongan.

Bagi pasien muslim, tidak ada sarana beribadah. Saya kaget ketika tahu bahwa disana pun tidak ada mushola. Tempat yang biasa dipakai oleh penunggu pasien untuk sholat adalah Ruang Doa yang juga dipakai berdoa bagi kaum Nasrani.

Sebuah tamparan keras bagi kaum muslimin, terutama bagi yang merasa mampu. Tidak perlu membuat yang baru, namun bangunlah rumah sakit islam yang sudah ada menjadi lebih baik lagi. Rumah sakit yang tidak hanya memulihkan kesehatan jasad pasiennya, namun juga mengembalikan kesehatan mental dan spiritualnya, yakni menguatkan keimanan. Semoga.

***

Cimahi, 14 November 2010
Rama Permana
Ketua KAMMI Komisariat IT Telkom 2010/2011

3 responses to “Kita Harus (Masih) Banyak Belajar

  1. Yayasan Buddha Cinta Kasih Tsu Chi, juga salah satu bentuk realitas umat Buddha… Miris memang melihat keadaan realitas Umat ISLAM..

    by the way emg boromeus ga ada mushola kak? padahal sy ud dua kali masuk boro, tapi ga tau…

  2. saya kurang setuju dengan beberapa analisa ant di atas, rumah sakit islam sebut saja Al-Islam bandung cukup memenuhi kelebihan yang ant sebutkan buat rs non islam, pengalaman menunggu pasien disana pelayanan cukup memuaskan, alangkah lebih tenangnya sebagai orang islam di rawat di sana, setiap perawat akhwatnya memakai jilbab, dan dapat dipastikan semua pegawainya beragama islam. Setiap pagi dan sore terdengar alunan ayat suci Al-Qur’an meski berupa murottal saja,pada 1/3 malam terkahir perawat wira wiri, jam segitu jam di suntik. Sebelum subuh sudah ada pakaian pengganti sambil membangunkan pasien. Suasananya pun begitu berbeda, ada aura ketenangan disana.

    Jikalau hal ini belum semua rumah sakit islam lakukan, banyak hal yang mendasarinya. Segi sdm, dana dsb. Bagaimanapun usaha teman2 di rs islam patut di acungi jempol. Tak mudah memang tapi sudah memulai. Rs muhammadiyah pun hampir pasti ada di setiap kota.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s