Newsmaker, Rekam Dirimu Sendiri Untuk Cegah Prasangka

Film Newsmaker

Di sela kepadatan kuliah semester lima, saya menyempatkan diri untuk menonton Newsmaker, film dari Rusia. Film yang dirilis tahun 2009 ini bercerita tentang ide anak seorang jenderal yang merupakan anggota kepolisian. Ia memiliki ide tentang bagaimana agar masyarakat mengetahui kerja polisi, yakni dengan memasang kamera perekam di setiap petugas. Dengan pemasangan kamera tersebut diharapkan media dan masyarakat dapat menghargai kinerja polisi.

Ide tersebut adalah tindak lanjut dari peristiwa perampokan sebelumnya yang sangat memalukan polisi. Kawanan perampok membuat seorang polisi menangis karena hampir ditembaknya. Parahnya, kejadian itu terekam oleh salah satu stasiun televisi dan menjadi bahan tertawaan media selama berhari-hari.

Proyek ‘Newsmaker’ itu pertama kali dipakai saat penyergapan perampok di sebuah apartemen. Meski dipakaikan kamera di setiap helm petugas, nampaknya citra polisi tak kunjung membaik. Kelihaian para perampok melumpuhkan beberapa petugas dan menyandera seorang keluarga hanya membuat polisi semakin malu. Selanjutnya, silakan Anda menonton sendiri film ini.

Sempat terpikir jika kamera dipasangkan kepada setiap pemimpin publik di negeri ini, seperti presiden, gubernur, anggota dewan, dan pejabat lainnya. Media dan masyarakat dapat menilai sendiri kinerja mereka, tanpa harus membuat-buat prasangka yang tidak menambah faedah. Selain itu, teknologi masa depan saya harap bisa mengabulkannya, saya kira diperlukan juga alat pembaca pikiran. Dengan alat ini, kita dapat membaca pikiran atau alasan dari keputusan-keputusan para pejabat publik.

Saya sangat prihatin melihat pemberitaan media hari ini. Bukan rahasia lagi jika konten media tidak terlepas dari siapa pemilik saham terbesar media tersebut. Media, membuat citra orang yang berbuat baik menjadi sangat baik, dan citra orang yang berbuat buruk menjadi sangat buruk. Padahal, kebaikan atau keburukan itu belum dapat disimpulkan. Dalam dunia politik, hitam-putih tidak bisa ditafsirkan secara rigid. Pasti ada berbagai alasan untuk menentukan satu sikap tertentu.

Contoh, berita tentang Pelesiran Gubernur Sumatera Barat yang baru, Irwan Prayitno, ke Jerman. Didominasi dengan dugaan-dugaan, berita tersebut juga tidak cover both side. Akhirnya, pihak pemprov Sumbar, khususnya gubernur, jelas sangat dirugikan. Beruntung, Harian Singgalang menjadi penyeimbang dengan memberitakan kejadian sebenarnya.

Di lain pulau, berita tentang studi banding anggota DPR ke luar negeri yang disertai olok-olok sudah sangat keterlaluan. Jika kita mau membuka isi otak beberapa anggota DPR, maka kita akan mengetahui bahwa ada yang dengan merasa berat hati memilih keputusan ini. Mengapa? Karena anggaran untuk ‘hajatan’ tersebut sudah dialokasikan. Jika anggaran tersebut tidak dipakai, justru bisa menjadi uang panas yang riskan menjadi lahan korupsi.

Meski gagasan ini kini baru sebatas mimpi, semoga ada generasi yang mampu mewujudkannya kelak. Dengan kamera pribadi, hal yang dititiktekankan bukanlah amalan kita akan menjadi riya atau tidak, namun sebagai upaya untuk menghindarkan diri dan orang lain dari objek dan subjek su’uzhann. Allahu a’lam.

Cimahi, 15 November 2010
Rama Permana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s