Optimasi Media Sebagai Corong Propaganda

KAMMI, yang berparadigma Gerakan Dakwah Tauhid, hadir di tengah kegamangan para aktifis masjid kampus untuk bergerak menegara. Wajihah ‘amal ini diciptakan untuk mewadahi gerakan politik. Pergerakan mihwar dakwah dari sya’bi menuju muassasi membuat kita harus melakukan mobilitas vertikal ke dalam institusi-institusi kebijakan. Dengan kata lain, kita melakukan infiltrasi. Ya, infiltrasi nilai-nilai kebaikan yang didesakkan untuk menjadi legal dalam sebuah peraturan.

 

Sekali lagi, kita berbicara dalam domain kampus. Perlu diakui bahwa isu kampus yang paling mendapatkan penerimaan adalah isu yang berkisar pada wilayah bidang yang digeluti di kampus tersebut. Tak perlu ragu, tiket berharga puluhan hingga ratusan ribu untuk seminar Nano-Satellite contohnya, habis disergap di IT Telkom. Fakta yang kontradiktif ketika BEM dan KAMMI IT Telkom memiliki tawaran Seminar Jurnalistik.

 

Publikasi

 

Salah satu kunci kesuksesan melempar isu terletak pada konten media propaganda. Tidak hanya itu, kuantitas, kreasi, dan inovasi juga dibutuhkan untuk menyilaukan mata dalam penglihatan sepintas. Berapakah kemudian mahasiswa yang berpartisipasi aktif dalam setiap pemilu raya di kampus? Itu pemilih, belum dihitung yang sekedar tahu namun tak memilih. Dengan berbagai publikasi yang jor-joran, berapa banyak orang –hingga kalangan karyawan dan dosen– yang tahu, minimal, nama para calon? Luar biasa, efek publikasi!

 

Konten

 

Ciri dari organisasi modern adalah kuatnya jaringan organisasi tersebut. Sementara, kuatnya jaringan pada umumnya disokong oleh support system yang disebut Public Relation (PR). PR atau Humas memiliki peranan vital untuk mempertahankan eksistensi organisasinya di tengah heterogenitas yang niscaya. Komunikasi internal dan eksternal harus dilakukan secara intensif untuk mencegah missed-information. Untuk mendukungnya, diperlukan juga sub support system yang kuat, diantaranya pengelolaan media, isu, berita, dan teknik publikasi.

 

Jika penguasaan terhadap sub bagian dari humas telah dicapai, maka kita tinggal kemudian memasukkan konten –yang telah baku itu– untuk disebarkan kepada khalayak luas. Dalam terminologi dakwah kita sering menyebutnya nasrul fikrah. Itulah inti yang kita sebarkan dengan pengemasan sedemikian rupa sehingga dapat menjadi nilai objektif yang diterima oleh umum.

 

Kemasan

Inilah bagian yang juga tak boleh terlupakan, pengemasan gagasan yang disebarluaskan. Ide sejitu apapun tidak akan sampai kepada orang lain jika pengemasannya buruk, bisa jadi tak baik gambarnya atau tak baik bahasanya. Kita juga harus profesional bagaimana mengemas sebuah event. Jika itu acara umum, maka buatlah seperti umum. Jangan sekali-kali tersirat bahwa itu adalah forum khash yang berefek pada siapa partisipan yang akan hadir, ya itu-itu saja! Marilah kita perluas wilayah pembelajaran organisasi kita. Usul saya, setiap orang punya jaringan masing-masing ke organisasi, media, tokoh, atau apapun yang bisa disebut jaringan. Sehingga, kita akan mendapatkan lebih banyak informasi, strategi, dan –semoga– keahlian yang bisa kita konversi menjadi platform gerakan komisariat yang mandiri.[ram]

 

Bandung, 3 Januari 2011

Rama Permana

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s