Guru Goblok Ketemu Murid Goblok

Buku ini disarankan kepada kawan-kawan mahasiswa mata kuliah Inovasi dan Kewirausahaan kelas EL-32-GAB. Jarang sekali dosen yang merekomendasikan buku untuk dibaca kepada mahasiswanya. Kelas yang diajar Mas Cocon (Candra Wijayangka/CWJ) ini memang terbilang cukup seru, mungkin karena usia dosen yang tidak terlalu jauh sehingga dekat dengan mahasiswa karena bisa beradaptasi dengan tren kekinian.

Buku karya seorang konsultan keuangan ini disarankan ketika dosen sedang membahas tentang perhitungan perkembangan aset. Seingat saya, beliau mencontohkan dengan modal sekitar 100 juta rupiah, maka dapat dihitung waktu perusahaan tersebut untuk menjadi perusahaan berkelas nasional. Sebagai perbandingan, ia memberikan tiga contoh perusahaan dengan perkembangan aset tetap per tahun sebesar 20%, 50%, dan 70% (CMIIW).

Pembahasan tentang perhitungan tersebut ternyata sama persis dengan apa yang tertulis di pertengahan buku ini. Setiap kata yang ia lontarkan juga nyaris sama dengan kata yang ada di buku itu. Saya sempat heran ketika membaca bagian itu, bagaimana caranya ia menghafal isi buku itu (kira-kira 3-5 halaman).

Secara khusus, buku ini ingin memotivasi pembaca untuk menjadi wirausahawan. Namun, nilai-nilai umum yang terkandung dalam buku tersebut sebenarnya dapat digunakan juga untuk kehidupan. Beberapa diantaranya adalah merasa goblok, tekun, dan timing.

Merasa Goblok

Bagi generasi seperti saya, mungkin tidak asing lagi dengan istilah menyontek. Mulai dari SD hingga kuliah, selalu saya dapati ada teman yang suka menyontek. Mungkin, di dunia profesi nanti pun juga masih ada yang suka menyontek? Ah, kita lihat saja nanti.

Penulis, Iman Supriyono, menyebutkan bahwa perbuatan menyontek sesungguhnya hanya didasari oleh perasaan tidak ingin dianggap goblok. Ya, sejak kecil orang Indonesia memang selalu ingin dianggap pintar. Konsep ranking di bangku sekolah tak pelak membuat banyak siswa berlomba-lomba ingin masuk podium (3 besar). Bahkan, segala cara dilakukan untuk mencapainya.

Pandangan ingin selalu dianggap pintar ini kemudian berlanjut hingga ke masa tua. Ini saya dapati pada guru-guru yang selalu merasa dirinya benar, tidak ingin disalahkan, ngeyel, gak bisa dibilangin, dsb. Pemikiran kolot seperti itu yang ingin dihilangkan oleh guru dari penulis ini, alias Guru Goblok.

Pengusaha kaya yang bermodal banyak ini sering dipanggil Pak Rohim atau Pak Guru. Guru Goblok mereka para wirausahawan muda menyebutnya. Mengapa? Karena guru yang sering memberi modal usaha kepada para mahasiswa ini selalu merasa dirinya goblok. Contoh, jika bisnis yang dijalankan oleh mahasiswa binaannya (dan tentunya dimodali oleh guru juga) gagal, maka ia tidak menyalahkan mahasiswa itu. Tetapi, ia menganggap dirinya yang goblok. Karena jika dirinya pintar, maka ia tidak seharusnya memberi modal usaha kepada mahasiswa itu, atau setidaknya bisa mengajari mahasiswa itu berbisnis lebih baik sehingga tidak rugi/gagal.

Teruslah merasa goblok dengan catatan dibarengi dengan usaha untuk menghapus kegoblokan tersebut. Jika sudah terpecahkan kegoblokan yang satu, maka cari kegoblokan yang lain. Inilah istilah yang disebut penulis sebagai bahasa lain dari fa’idza faragta fanshab, jika setelah selesai dengan urusan yang satu, maka kerjakan urusan yang lain. Dengan demikian, hidup menjadi bermakna karena kita terus menerus belajar sampai akhir hayat. Misalnya, apa Anda tahu arti dari phi (3,14159…) yang dipakai dalam rumus lingkaran? Atau dari mana asal muasal rumus volume bola {(4/3) x phi x r^3}? Jika belum tahu, maka dua pertanyaan tadi merupakan kegoblokan Anda bukan?😀

Itulah juga yang bisa kita terapkan dalam kehidupan. Apa salahnya kelihatan goblok dengan sekali dua kali mengorbankan rasa malu, dari pada harus berbohong menyontek pekerjaan teman yang itupun belum tentu benar.😀

Tekun

Satu hal lagi yang dibahas di buku ini adalah ketekunan. Seorang yang sukses tidak mencapai kesuksesannya dengan instan. Banyak yang dicontohkan oleh penulis dalam bukunya. Namun, karena saya lupa, maka saya ambil contoh lain saja. Manchester United (MU), tim sepakbola liga inggris yang selalu finish di tiga besar liga inggris dalam dua dekade ini ditukangi oleh Sir Alex Ferguson (Fergie). Apakah ia melatih MU begitu saja lantas langsung meraih prestasi seperti yang saya sebutkan di atas? Tentu tidak, ia harus tertatih-tatih selama 6 tahun sebelum mencapai prestasi yang konsisten.

Timing

Dalam buku tersebut ada analogi lain. Suatu hasil akan optimal ketika terjadi pada waktu yang tepat. Seorang wirausahawan yang berpengalaman tahu bagaimana menemukan timing tersebut. Analoginya begini, sepasang suami istri baru saja selesai melangsungkan akad nikah. Sebelum para tamu beranjak dari tempat akad, sang suami langsung berdiri dan berkata, “Bapak-bapak dan ibu-ibu serta semua undangan yang saya hormati, terima kasih telah hadir pada acara yang sangat berbahagia ini. Sekarang, karena saya dan istri sudah menjadi pasangan yang sah, kami mohon diri untuk melaksanakan hak dan kewajiban kami sebagai suami istri.” Bagaimana reaksi para tamu? Mungkin mencibir dan menertawakan. Apakah perbuatan sang suami salah? Jelas tidak, itu sudah menjadi haknya, namun timing-nya tidak tepat.

Barangkali cukup tiga pelajaran yang saya tulis disini, selanjutnya silakan baca sendiri buku terbitan SNF Consulting itu. Jangan mau disuapi terus dengan membaca intisarinya saja dari blog saya, tekunlah mencari sendiri pelajaran yang ada di buku itu.🙂

Cimahi, 14 Januari 2012
Rama Permana

4 responses to “Guru Goblok Ketemu Murid Goblok

  1. “GURU GOBLOK ketemu MURID GOBLOK adlh motivasi paling mujarab untk menggugah jiwa para investor& interpreneur yg trtdur”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s