Trans Studio Bandung

Kurang dari satu bulan yang lalu saya menemani dua orang dari luar kota Bandung yang ingin berkunjung ke Trans Studio Bandung (TSB), salah satu wahana indoor terbesar dunia di kawasan Bandung Super Mall (BSM). Berangkat dari kota asalnya jam 6 pagi, mereka tiba di Terminal Leuwi Panjang setelah tiga jam perjalanan.

Bandung

Kami bertemu di terminal dan langsung melanjutkan perjalanan ke alun-alun kota atau taman di depan Masjid Raya Jawa Barat. Ada setidaknya dua alternatif murah untuk menuju ke alun-alun dari terminal; bus Damri jurusan Cicaheum, atau angkot kuning jurusan Kebon Kalapa. Tarif bus Damri sendiri relatif murah, Rp 2.000,- untuk non AC dan Rp 3.000,- untuk bus AC. Tidak sampai tiga puluh menit perjalanan, kami pun sampai di alun-alun. Sembari sarapan pagi, tidak lupa mereka juga berfoto disana.

Perjalanan ke TSB kami lanjutkan dari alun-alun dengan angkot merah Elang-Cicadas via Binong atau melewati BSM. Perlu diketahui, tidak semua angkot tersebut melewati BSM, jadi bertanyalah dahulu kepada si supir.

Jam belum menunjukkan pukul 10.30, kami sudah masuk gerbang BSM. Logo TSB dan jalur coaster nampak dari kejauhan. Segera saja kami menuju ticket booth yang ada di lantai dasar. Ticket booth juga ada di lantai 3, tepat di sebelah gate TSB. Tiket pada hari kerja bisa didapatkan dengan harga Rp 150.000,-, sedangkan pada hari libur dan weekend Rp 200.000,-. Untuk akses VIP atau antrian cepat Anda harus menambah Rp 200.000,-, namun untuk hari kerja sepertinya tidak perlu menggunakan VIP. Seluruh transaksi di TSB menggunakan Mega Card seharga Rp 10.000,- yang hanya berlaku untuk dua orang. Setelah membeli tiket, kami langsung menuju gate TSB. Pemeriksaan tas dilakukan oleh penjaga di pintu masuk untuk mencegah makanan dan minuman masuk ke TSB. Jika kedapatan membawanya, maka harus disimpan di tempat penitipan.

Wahana TSB

Hari sebelumnya, saya sudah cek semua tentang TSB (wahana dan show-nya), baik dari blog orang-orang yang sudah pernah berkunjung kesana maupun situs resmi TSB. Ini saya lakukan agar perjalanan kami di TSB bisa seefektif mungkin. Ini juga berlaku bagi Anda yang akan berkunjung untuk pertama kalinya ke TSB agar tidak linglung ketika tiba di dalam TSB. Wahana di TSB sangat beragam dari yang mengasyikan, menyegarkan, menegangkan, menantang, sampai menambah pengetahuan. Terdapat tiga zona, yaitu Studio Central, The Lost City, dan Magic Corner yang infonya bisa Anda dapatkan di situs resmi TSB.

Ketika kami masuk, masih banyak wahana yang belum dibuka. Khusus di hari kami berkunjung itu, Jumat, beberapa wahana yang biasanya dibuka jam 12 baru dibuka jam 1 siang. Wahana pertama yang kami coba adalah Marvel Superheroes 4D. Ini adalah studio 4 dimensi yang menceritakan tentang superheroes buatan Marvel, diantaranya Iron Man, Thor, Captain America, dan Hulk. Disebut studio 4 dimensi karena kita tidak hanya akan melihat gambar 3 dimensi, tetapi juga merasakan efek getaran, angin, dan air dari short movie yang ditayangkan. Misalnya, ketika movie menayangkan hero yang jatuh dari langit, maka kita akan merasakan angin yang sebenarnya dirasakan oleh hero itu.

Setelah wahana tadi, kami mencoba Vertigo yang di Dunia Fantasi (Dufan) Ancol disebut Kicir-Kicir. Disini pengunjung yang mencoba tidak hanya akan diputar dari tengah, bahkan masing-masing kursinya pun turut berputar ke samping. Orang yang berpenyakit jantung saya sarankan untuk berpikir ulang jika ingin menaiki wahana ini. Ketegangan di wahana ini saya beri nilai 7.

Meski hari kerja, antrian di setiap wahana tetap ramai, namun tentu tidak seramai hari libur dan akhir pekan. Kami kemudian masuk ke Science Center, dimana terdapat banyak alat peraga dari bermacam-macam ilmu pengetahuan. Tempat ini juga sangat luas sehingga untuk melihat –apalagi mencoba– satu persatu alatnya akan memakan waktu lebih dari 30 menit.

Waktu sudah menunjukkan jam setengah 12, maka kami pun keluar TSB terlebih dahulu untuk menunaikan shalat Jumat. Khusus untuk alasan shalat Jumat, pengunjung bisa meminta izin kepada penjaga di gate dan akan diberi tanda sehingga nanti pengunjung itu bisa langsung masuk tanpa harus membeli tiket lagi.

Seusai shalat Jumat, TSB masih sepi dari pengunjung. Kami segera mencari wahana yang sepi antrian. Akhirnya, Giant Swing adalah wahana yang selanjutnya kami jajal. Bentuknya besar dan kami diputar sangat cepat, saya perkirakan sudut putarnya lebih dari 90 derajat. Naik dan turun yang sangat cepat membuat aliran darah juga menjadi kacau. Saya ingatkan, pengunjung yang berpenyakit jantung jangan menaiki wahana ini. Selesai menaiki wahana ini, saya jamin semuanya akan pusing. Ketegangan di wahana ini saya beri nilai 8.

Sambil berpusing ria, kami memutuskan untuk mencoba wahana Dunia Lain. Kami naik kereta yang hanya bisa dinaiki empat orang dan akan mengelilingi ruangan-ruangan yang menyeramkan. Keretanya cukup banyak sehingga meski antrian cukup panjang namun kami cukup cepat untuk bisa naik. Suasana dingin disini cukup untuk meredakan degup jantung yang kencang seusai wahana sebelumnya.

Wahana selanjutnya yang kami coba adalah Kong Climb. Disini kami ditantang untuk panjat dinding sampai ketinggian kira-kira 10 meter. Disini cukup sepi pengunjung sehingga kami langsung dilayani begitu datang. Dengan pengaman yang diikatkan sedemikian rupa, pengunjung tidak perlu takut untuk jatuh. Syaratnya, berat badan Anda tidak lebih besar dari 100 kg.

Kami kemudian istirahat sejenak sambil menikmati mie bakso. Transaksi tentu harus dilakukan dengan Mega Card yang didapatkan dari ticket booth tadi. Syaratnya, kartu itu harus memiliki saldo. Terdapat banyak loket untuk menambah saldo atau diistilahkan dengan Top Up.

Selesai dengan wahana-wahana “kering”, kami mencoba wahana Jelajah yang seperti Niagara di Dufan. Pengunjung akan naik perahu berkapasitas enam orang, mengitari lintasannya, naik dan meluncur disertai air yang menyembur ke seluruh badan. Setelah menaiki wahana ini, dijamin pengunjung akan basah kuyup, maka bersiaplah dengan baju ganti.

Kemudian, kami mencoba Sky Pirates dimana kami akan mengelilingi hampir seluruh sisi TSB dari atas. Disebutkan bahwa kereta itu menggunakan balon udara, tapi saya tidak yakin karena lebih mirip dengan kereta gantung. Wahana ini cocok untuk sejenak melepas lelah atau melihat dari ketinggian wahana apa saja yang ada di TSB.

Jam menunjukkan pukul 14.20 dan 10 menit lagi akan ada show Special Effect Action. Antrian sudah cukup panjang, tetapi jangan khawatir karena tribun untuk menonton show ini cukup besar untuk menampung ratusan penonton. Disini pengunjung akan dihibur dengan pertunjukan action seperti kejar-kejaran motor, tembak-tembakan, dan kebakaran dalam jarak beberapa meter saja di depan mata. Tentu saja efek langsung karena jarak dekat tersebut yang menjadi nilai plus, karena itu tidak akan kita dapatkan jika menonton film action dari layar kaca.

Setelah shalat asar di musholla TSB, kami kemudian mencoba wahana Si Bolang. Wahana ini terkesan seperti wahana anak-anak jika dilihat dari pintu masuknya. Setelah mencobanya, kesan pertama saya ternyata benar. Pengunjung akan naik kereta berkapasitas 4 orang dan mengelilingi miniatur-miniatur seluruh provinsi di Indonesia.

Kami mengunjungi juga Trans Broadcast Museum yang berisi alat-alat untuk siaran acara-acara di Trans TV dan Trans7. Disini pengunjung bisa berdiri di depan kamera, seolah-olah ia adalah pembawa acara Insert Investigasi. Alat-alat lain yang bisa dicoba adalah dubbing dan editing video.

Wahana terakhir yang saya jajal adalah Trans Car Racing. Pengunjung akan menaiki mobil berkapasitas 2 orang dan mengendarainya sesuai sirkuit yang disediakan. Sirkuit ini agak panjang sehingga cukup sesuai dengan perjuangan antrian yang sudah dilakukan.

Terakhir, kami berpisah, satu orang naik Yamaha Racing Coaster dan satu lagi masih penasaran dengan panjat dindingnya karena di percobaan pertama tadi ia gagal. Sementara saya sendiri sudah merasa cukup dengan belasan wahana tersebut dan hanya memotret momen-momen Parade. Tepat pukul 17.00, semua icon TSB akan berparade di tengah TSB dan kita bisa memintanya berhenti untuk berfoto bersama.

Total ada 14 dari 21 wahana/show yang kami coba/lihat. Kami meninggalkan show Kabayan di Trans Theatre dan Legenda Putra Mahkota di Amphitheatre. Kami juga meninggalkan wahana Negeri Raksasa dan Dragon Riders karena menegangkan dan berpotensi kembali membuat pusing. Selain itu, ada pula wahana yang memang hanya diperbolehkan untuk anak-anak, diantaranya Kiddy’s Land, Pulau Liliput, dan Captain Black Heart Pirate Ships. Jadi, sebenarnya hanya 2 wahana dan 2 show yang kami tinggalkan.

Usai shalat magrib, kami keluar dari TSB dan makan malam. Setelahnya, kami langsung menggunakan taksi dari BSM tepat pukul 20.00 ke Terminal Leuwi Panjang. Cerita rekreasi ke TSB pun berakhir sampai disini.

Rogohan Kocek (3 Orang)

Ini sekedar info anggaran untuk Anda yang berencana ke TSB. Anggaran ini akan berbeda jika jumlah orang yang ikut juga berbeda, jika Anda menggunakan akses VIP, dan jika Anda berkunjung bukan pada hari kerja. Total anggaran juga masih harus ditambahkan dengan ongkos dari dan ke rumah Anda untuk sampai di Terminal Leuwi Panjang, Bandung.

No.

Keperluan

Besar

1

Ongkos sampai ke Terminal Leuwi Panjang, Bandung Isi sendiri

2

Bus Damri sampai alun-alun (3 x Rp 2.000,-) Rp     6.000,-

3

Angkot ke BSM (3 x Rp 3.000,-) Rp     9.000,-

4

Mega Card (1 kartu 2 orang @ Rp 10.000,-) Rp   20.000,-

5

Tiket TSB hari kerja (3 x Rp 150.000,-) Rp 450.000,-

6

Top Up, makan malam, dll Rp 188.000,-

7

Taksi ke Terminal Rp   25.000,-

8

Ongkos sampai ke rumah Anda Isi sendiri
Total rogohan kocek Rp 698.000,-

Bandung, 22 Mei 2012
Rama Permana

6 responses to “Trans Studio Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s