Balada Pilgub Jabar 2013

Pemilihan Kepala Daerah Langsung atau Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2013 boleh dibilang sebagai pilkada paling wah dilihat dari segala aspeknya. Pertama, segi jumlah pemilih. Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan populasi terbesar se-Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 46 juta jiwa atau hampir 50 juta.[1] Sehingga, kursi Gubernur Jawa Barat adalah tahta paling bergengsi di kelasnya, selain Gubernur DKI Jakarta yang merupakan ibu kota negara. Bagaimana tidak, 50 juta bukan nyawa sedikit, 50 juta artinya seperlima jumlah penduduk Indonesia. Maka, bolehlah kita katakan kalau Gubernur Jawa Barat mengemban amanah mensejahterakan satu perlima Indonesia.

Kedua, segi dana. Dana Pilgub Jabar menembus istilah ‘triliun’, yakni sebesar 1,4 triliun rupiah.[2] Angka ini jauh di atas pilgub di provinsi-provinsi lain, misalnya DKI Jakarta dengan 254 miliar rupiah dan Kalimantan Barat 150 miliar rupiah.[3] Ketiga, segi keartisan atau figur publik. Tidak hanya satu, tetapi tiga artis yang bertarung pada Pilgub Jabar 2013 ini, mulai dari artis senior Deddy Mizwar, Dede Yusuf, dan Rieke Diah Pitaloka. Dari ketiganya, anekdot tukang obat juga jadi topik yang sering diperbincangkan. Untuk diketahui, tiga dari lima pasang kandidat tersebut mewakili masing-masing satu produk obat. Dede Yusuf dengan Bodrex-nya[4], Deddy Mizwar dengan Promag-nya[5], dan Rieke dengan Kuku Bima-nya[6].

Setelah dibahas tentang Pilgub Jabar secara umum, mari kita beranjak pada penilaian kepada masing-masing pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Penilaian ini merupakan simpulan berita dan akan diurut mulai dari pasangan dengan suara paling sedikit, tentu versi Quick Count.[7]

 

5: Dikdik-Cecep

Dikdik Mulyana Arief Mansyur dan Cecep Nana Suryana Toyib adalah pasangan dengan suara terkecil, antara 1,67%-2,02%. Pasangan ini tidak mendapat dukungan dari parpol manapun alias independen. Majunya pasangan ini terbilang nekat[8] karena minimnya popularitas pun juga elektabilitas. Dikdik sendiri merupakan mantan Kapolda Sumsel, sehingga hampir pasti tak dikenal rakyat Jabar. Jangankan Kapolda Sumsel, Kapolda Jabar saja belum tentu populer di mata masyarakat Jabar. Sementara itu, Cecep adalah Sekda Kabupaten Indramayu yang lagi-lagi popularitasnya rendah. Sekali lagi, jangankan Sekda Kab. Indramayu, Sekda Provinsi Jawa Barat pun (Lex Laksamana) tidak terlalu populer. Meski Dikdik dicap sebagai calon terkaya dengan total harta 30,5 miliar rupiah plus 99.000 dollar AS[9], nyatanya kekuatan dana saja tak cukup untuk memenangkan pertarungan atau bahkan minimal bersaing ketat dengan calon lain.

 

4: Yance-Tatang

Irianto MS Syafiuddin (Yance) dan Tatang Farhanul Hakim diusung oleh Partai Golkar. Hasilnya, pasangan ini hanya duduk di posisi buncit -jika kita mengabaikan pasangan calon independen- dengan raihan suara antara 11,81%-12,75%. Padahal, jika ditilik dari pengalaman politik keduanya, Yance dan Tatang sama-sama pernah memimpin area kabupaten untuk dua periode berturut-turut. Yance adalah Bupati Indramayu tahun 2000-2010, dan sekarang dilanjutkan oleh istrinya, Anna Sophana.[10] Sedangkan Tatang adalah Bupati Tasikmalaya tahun 2001-2011.[11] Hal ini berarti bahwa elektabilitas seorang calon di suatu daerah kota/kabupaten belum tentu sama besarnya dengan daerah lain, bahkan di daerah yang lebih besar (provinsi).

Dukungan parpol juga tak sejalan dengan si calon. Tercatat PPP mengubah haluan dukungan, padahal mereka mendukung Tatang saat menjadi Bupati Tasikmalaya. Sama seperti Dikdik-Cecep, Yance-Tatang tidak ada istimewanya, tidak ada rasanya. Meski memiliki segudang prestasi, mereka -terutama Yance- tidak dapat ‘menjual’ diri mereka sendiri yang tercermin dari diskusi ataupun debat yang diselenggarakan oleh KPU Provinsi Jawa Barat dan beberapa stasiun TV.

 

3: Dede-Lex

Yusuf Macan Effendi (Dede Yusuf) dan Lex Laksamana diusung oleh Partai Demokrat (PD), Gerindra, PAN, dan PKB. Pasangan ini meraih suara antara 24,71%-26,26% dan duduk sebagi medioker hasil Pilgub Jabar 2013. Tercecernya Dede-Lex di urutan ke-3 merupakan sebuah kejutan karena pada banyak hasil survei, pasangan ini diprediksi bersaing ketat di dua besar.[12] Salah satu faktor paling besar yang mendegradasi suara Dede-Lex tak lain karena pasangan ini terasosiasi sangat kuat dengan PD. Kita ketahui Ketua Umum PD, Anas Urbaningrum, ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK untuk kasus Hambalang pada Jumat (22/2), hanya 2 hari sebelum pencoblosan. Mau tidak mau, kasus hukum berhubungan dengan politik, maka keluarlah Dede-Lex sebagai korban pertama masalah di PD. Selain itu, Dede-Lex juga dinilai tidak dapat memanfaatkan dukungan Prabowo.[13] Faktor kecil lain mungkin tidak berpengaruh banyak karena waktunya yang singkat, yaitu ketika dua orang suruhan tim media Dede-Lex melakukan kampanye hitam untuk calon lain pada Sabtu (23/2) malam.[14]

 

2: Rieke-Teten

Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki yang diusung PDIP meraih suara antara 27,37%-29,07%. Rieke-Teten yang diprediksi hasil survei finish di posisi 3 secara mengejutkan merangsek ke peringkat 2. Selain faktor masalah PD, faktor Jokowi yang ikut menjadi juru kampanye Rieke-Teten diduga ikut menaikkan suara pasangan nomor 5 ini.[15] [16] Namun, posisi 2 sebenarnya dirasa masih kurang. Sebabnya, PDIP sebagai mesin Rieke-Teten seharusnya mampu memainkan isu yang sedang mendera parpol pengusung pesaingnya, PD dan PKS. Logikanya, jika kedua partai itu diserang habis-habisan dengan isu korupsinya -meski belum diputus bersalah, maka pasangan Rieke-Teten yang akan mulus keluar sebagai pemenang sekaligus mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang menjadi Gubernur Jawa Barat.

 

1: Aher-Demiz

Ahmad Heryawan (Aher) dan Deddy Mizwar diusung oleh PKS, PPP, Hanura, dan PBB. Pasangan nomor 4 ini meraih posisi puncak dengan raihan suara antara 31,58%-33,21%. Kemenangan pasangan ini disebabkan empat faktor; jumlah calon yang banyak sehingga suara terpecah, popularitas Deddy Mizwar, kisruh internal PD, dan konsolidasi kilat PKS.[17] Aher sendiri ketika diwawancara di televisi lebih memilih faktor jaringan sebagai sokongan utama kemenangannya. Dalam Pilgub Jabar 2013 ini, pasangan Aher-Demiz sangat cerdas dalam ‘menjual kemasan’ mereka. Simbol yang dipakai mereka sepanjang Pilgub ini sama sekali tidak berasosiasi dengan simbol PKS, melainkan simbol kancing merah. Strategi ini cukup jitu menyamarkan bahwa Aher itu dari PKS, terbukti hanya 30% saja publik yang tahu Aher diusung PKS.[18]

Cimahi, 25 Februari 2013

Rama Permana


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s