MENJADI NETIZEN CERDAS

Lebih satu dekade berlalu dari dimulainya era digital dimana banyak yang mengekspektasi gemilangnya tahun (20)10-an sebagai era internet cepat, zamannya smart gadget, komputerisasi, automatisasi, dan sebangsanya. Setiap orang terkoneksi dengan internet, baik yang memiliki kecenderungan sebagai upstream user (produktif) ataupun downstream user (konsumtif). Dengannya, periode itu (ini) dianggap menjadi awal terbentuknya citizen journalism.

Periode dimana informasi bisa langsung disampaikan oleh orang yang paling pertama mengalami/melihatnya, tidak perlu wartawan -dalam arti sebenarnya- untuk membuat berita. Informan yang jelas asal-usulnya (bukan anonim) ditunjang bukti berupa gambar maupun video yang sangat mudah disebarluaskan. Dengan mudahnya orang terbagi informasi tersebut, ada pula tulisan yang disanggah orang lain menjadi rangkaian saling balas pendapat.

Pada titik ini, tulisan-tulisan tersebut menjadi rentan terhadap kebenaran / keakuratan isinya. Tapi tetap saja ada sebagian orang yang menjadikannya rujukan utama, hingga merasa ahli dengan belajar dari tulisan-tulisan itu. Lebih akut, kebohongan menjadi bumbu yang dibungkus dengan judul sensasional sekedar untuk mempertahankan argumen dan menarik perhatian agar pundi-pundi adsense-nya bertambah.

ORANG PALING PERTAMA

Buktinya, sudah banyak orang yang Go-Public, mereka langsung menulis sendiri masalah yang dialaminya di media sosial (medsos), tanpa sensor. Mulai dari masalah lalu lintas seperti mobil ugal-ugalan di jalan tol, angkutan umum melanggar jalur, atau tukang ojek tidak senonoh. Kemudian masalah kesehatan seperti antrian panjang menunggu kamar inap rumah sakit, atau tentang biskuit yang bisa terbakar. Sampai masalah keluarga, yang sejatinya menjadi konsumsi terbatas saja.

OPINI VERSUS OPINI

Dalam banyak tulisan yang bermula dari perorangan ini, terkadang ada pihak lain yang dirugikan atau minimal tidak setuju. Tipe tulisan seperti ini biasanya akan dibalas kembali dengan sanggahan dari pihak yang bertolak belakang selang beberapa hari kemudian atau bahkan dalam hitungan jam saja.

Soal Rio Haryanto misalnya, ketika ia akhirnya bisa mengikuti F1 musim 2016 dengan dukungan dana dari Menpora. Artikel kontra muncul terlebih dulu dengan sintesa bahwa alangkah baiknya jika dana sekian belas miliar dari Kemenpora bisa dipakai untuk kebutuhan rakyat kecil. Artikel pro muncul pada hitungan hari dengan antitesa bahwa dalam olahraga yang levelnya sudah mendunia, satuan miliar adalah besaran yang wajar untuk digelontorkan, apalagi melihat ekses bisnis dan entertainment yang bisa dimanfaatkan oleh para pengusaha kita.

AHLI-AWAM

Dengan mudahnya berbagi tulisan ini, maka akan banyak orang yang membaca sintesa dan antitesa tersebut. Pada tema-tema yang jarang dan sulit dipahami oleh kebanyakan orang, pembaca latah akan menelan salah satu pendapat, sementara pembaca kritis akan lanjut mengkaji sembari masih terus terombang-ambing dalam kebingungan.

Bahaya bagi grup latah yang terbiasa menelan mentah-mentah sekaligus meyakininya. Kebiasaan ini akan mengikis hubungan ahli-awam. Misal, pada hubungan dokter-pasien, seorang pasien akan merasa menjadi ahli, merasa sudah tahu apa penyakitnya, bagaimana menanganinya, dan apa obatnya, berdasar artikel kesehatan yang dibacanya saja. Atau pada hubungan guru-murid, murid akan merasa ahli dengan hanya membaca artikel bermodal paman G00gle.

Disini terlihat bahwa kini pengetahuan dangkal lebih disenangi. Merasa sudah sangat paham dengan membaca satu, dua, tiga tulisan saja. Menyepelekan pendapat mereka yang benar-benar berpengetahuan dalam, yang bertahun-tahun melahap puluhan, ratusan, ribuan literatur dengan ujian dan oral defense.

RAPUHNYA VALIDITAS BERITA

Beberapa waktu lalu Gubernur NTB, K.H. Zainul Majdi, yang membuka peresmian pariwisata area Mandalika, Lombok, bercerita tentang pengalamannya di Mesir. Dari puluhan koran yang beredar sebelum pecahnya reformasi Mesir, masyarakat disana berkelakar bahwa hanya berita duka lah yang masih bisa dipercaya. Setelah reformasi, bermunculan media-media baru dimana sudah tidak ada lagi berita yang bisa dipercaya termasuk berita duka.

Dengan tidak men-generalisir cerita tersebut, ada pola yang sama terjadi di hadapan kita sekarang dengan menjamurnya kabar syubhat. Berita meragukan (sengaja diterjemahkan bagi kaum religiophobia) diperparah dengan banyaknya situs berita amatir yang isinya hoax / kebohongan, menghasut, dan mengadu domba.

Fenomena hoax ini didukung oleh generasi 140 karakter yang terjangkit penyakit latah. Tanpa membaca konten langsung menghakimi judul, tanpa mengerti makna langsung menghakimi tulisan, tanpa ilmu yang utuh langsung menghakimi pendapat, tanpa kaidah tabayyun (cover both side) langsung menghakimi satu pihak, tanpa verifikasi kebenaran berita langsung dibagi, dan lainnya.

* * *

Jadilah netizen yang cerdas, guys!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s